Mata Kuliah Kebudayaan Indonesia di Universitas Borobudur kembali di wujudkan melalui kegiatan akademik berbasis praktik pada tahun 2026. Kali ini, fokus kegiatan di arahkan pada Pekan Budaya Sumatra Barat atau kebudayaan Minangkabau. Program ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap budaya nasional secara kontekstual.

Di tengah arus globalisasi, pemahaman terhadap budaya lokal dinilai semakin penting. Oleh karena itu, kegiatan ini di rancang tidak hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang terintegrasi dengan kurikulum.

Latar Belakang Pemilihan Budaya Minangkabau

Menurut Irdiana, dosen Bahasa Inggris dan Kebudayaan Universitas Borobudur sekaligus penanggung jawab kegiatan, pemilihan tema Minangkabau merupakan kelanjutan dari program budaya yang telah di selenggarakan secara rutin setiap tahun. Sebelumnya, kegiatan serupa telah mengangkat tema Budaya Nusantara dan Budaya Betawi.

Selain itu, tema Minangkabau dipilih karena memiliki kekayaan nilai budaya yang relevan untuk di pelajari mahasiswa. Banyak mahasiswa di nilai lebih akrab dengan budaya luar di bandingkan budaya sendiri. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif dan menarik.

Dengan demikian, Pekan Budaya Minangkabau di harapkan dapat menjadi sarana pengenalan identitas budaya bangsa secara lebih mendalam.

Pembelajaran Berbasis Praktik dan Partisipasi Mahasiswa

Berbeda dari pembelajaran teoritis di kelas, kegiatan ini menekankan pengalaman langsung. Mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam berbagai bentuk ekspresi budaya. Mulai dari tari tradisional, pantun, hingga nyanyian daerah, seluruh unsur budaya dipelajari melalui praktik.

Sementara itu, mahasiswa juga di kenalkan pada keberagaman budaya Sumatra lainnya, seperti Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. Pendekatan ini memberikan gambaran luas mengenai kekayaan budaya Indonesia.

Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep budaya, tetapi juga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkesan.

Pelaksanaan Pekan Budaya Minangkabau sebagai pembelajaran kebudayaan Indonesia di Universitas Borobudur

Gebyar budaya dan bahasa (Google)

Integrasi Bahasa Inggris dalam Kegiatan Budaya

Salah satu ciri khas kegiatan ini adalah penggunaan bahasa Inggris dalam penyajian budaya. Mahasiswa di tuntut untuk mempresentasikan tema Minangkabau dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Di sisi lain, mahasiswa juga harus mampu memisahkan konteks penggunaan kedua bahasa tersebut secara tepat. Hal ini melatih kemampuan komunikasi akademik sekaligus memperkuat keterampilan berbahasa asing.

Lebih lanjut, integrasi bahasa Inggris membuka peluang pengenalan budaya Indonesia ke ranah global. Dengan pendekatan ini, mahasiswa di dorong untuk berpikir lebih luas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dukungan Institusi terhadap Kegiatan Kreatif Akademik

Wakil Rektor I Universitas Borobudur, Prof. Dr. Ir. Darwati Susilastuti, MM, menyampaikan bahwa kegiatan kebudayaan ini merupakan bagian dari agenda akademik yang telah di rencanakan secara berkelanjutan. Pihak universitas memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaannya.

Menurutnya, metode pembelajaran di perguruan tinggi perlu terus berkembang. Tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik dan kreativitas mahasiswa. Oleh sebab itu, kegiatan seperti Pekan Budaya Minangkabau di nilai relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.

Selain fasilitas dan sarana prasarana, dukungan juga di berikan kepada dosen sebagai pengampu mata kuliah.

Sistem Penilaian Berbasis Proyek Akademik

Lebih jauh, kegiatan ini memiliki kontribusi langsung terhadap sistem evaluasi pembelajaran. Penilaian tidak lagi bertumpu pada ujian tertulis semata. Sebaliknya, proyek kreatif mahasiswa menjadi komponen utama dalam penilaian akademik.

Dalam sistem ini, hasil karya mahasiswa dapat memiliki bobot penilaian yang besar. Bahkan, proyek praktik dapat menggantikan sebagian atau seluruh ujian akhir semester.

Dengan demikian, mahasiswa di dorong untuk lebih aktif, inovatif, dan bertanggung jawab terhadap proses belajar. Model penilaian ini juga membuka peluang integrasi dengan mata kuliah lain yang berbasis kreativitas dan kewirausahaan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Pekan Budaya Minangkabau di Universitas Borobudur menjadi contoh penerapan pembelajaran kebudayaan yang adaptif dan aplikatif. Melalui pendekatan praktik, integrasi bahasa, serta penilaian berbasis proyek, kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman budaya sekaligus kompetensi akademik mahasiswa. Program ini di harapkan dapat terus berkembang sebagai model pembelajaran kebudayaan di perguruan tinggi.