Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia. Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada tahun anggaran 2026, pemerintah menyiapkan dana yang sangat signifikan. Untuk memastikan keberlanjutan dan perluasan program ini. Besarnya alokasi anggaran menunjukkan komitmen negara dalam menjadikan pemenuhan gizi. Sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa anggaran yang d isiapkan untuk Program Makan Bergizi Gratis pada tahun 2026 mencapai Rp 335 triliun. Dana tersebut bersumber langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan di tujukan untuk menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia. Skala program ini menjadikannya sebagai salah satu intervensi sosial dan ekonomi terbesar yang pernah dilaksanakan pemerintah dalam sektor pangan dan gizi.
Jaminan Pendanaan Program Makan Bergizi Gratis dari APBN
Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis di jamin melalui pendanaan APBN, sehingga pelaksanaannya tidak bergantung pada sumber pembiayaan eksternal. Kepastian anggaran ini memberikan rasa aman bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaksana teknis, hingga mitra penyedia pangan. Dengan anggaran yang telah di tetapkan sejak awal, pemerintah dapat merencanakan distribusi dan pengawasan program secara lebih sistematis dan terukur.
Besarnya dana yang di alokasikan juga memungkinkan pemerintah untuk menjaga kualitas menu, standar keamanan pangan, serta pemerataan distribusi hingga ke wilayah terpencil. Dengan demikian, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program bantuan sosial, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan masyarakat.
Peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam Penggerak Ekonomi Lokal
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah. Model operasional SPPG dirancang dengan skema pembayaran di muka, di mana pelaksana menerima dana sebelum proses produksi makanan di mulai. Skema ini memberikan keuntungan dari sisi arus kas, sehingga operasional dapur dapat berjalan dengan stabil dan berkelanjutan.
Stabilitas arus kas tersebut mendorong tumbuhnya investasi lokal, terutama di sektor usaha kecil dan menengah. Pelaku usaha di tingkat daerah memiliki kepastian permintaan dan pendapatan, sehingga berani melakukan ekspansi usaha, menambah tenaga kerja, dan meningkatkan kapasitas produksi. Dalam jangka menengah, keberadaan SPPG berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru berbasis pangan dan gizi di tingkat lokal.

Foto : makan bergizi gratis (MBG)
Dampak Perputaran Dana terhadap Perekonomian Akar Rumput
Dari total anggaran Rp 335 triliun, di perkirakan hampir Rp 80 triliun akan mengalir ke masyarakat setiap kuartal. Nilai ini mencerminkan besarnya perputaran dana yang langsung menyentuh lapisan akar rumput. Di bandingkan dengan stimulus ekonomi pemerintah pada kuartal pertama tahun 2025 yang berada di kisaran Rp 37 triliun, dana MBG memiliki daya dorong ekonomi yang jauh lebih besar dan merata.
Aliran dana yang konsisten ke daerah mendorong peningkatan daya beli, menghidupkan sektor pertanian, peternakan, dan distribusi pangan lokal. Dengan demikian, MBG berfungsi ganda sebagai program pemenuhan gizi sekaligus stimulus ekonomi yang berkelanjutan.
Perluasan Sasaran Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Pada tahap awal, Program Makan Bergizi Gratis di fokuskan pada anak-anak dan peserta didik sebagai kelompok prioritas. Seiring dengan evaluasi dan penguatan regulasi, cakupan penerima manfaat di perluas. Melalui Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, pemerintah menetapkan perluasan penerima MBG yang mencakup tenaga pendidik, khususnya guru.
Ke depan, pemerintah juga merencanakan perluasan sasaran program ke kelompok lanjut usia. Langkah ini mencerminkan pendekatan siklus hidup dalam kebijakan gizi nasional, di mana pemenuhan kebutuhan nutrisi tidak hanya di fokuskan pada usia produktif, tetapi juga pada kelompok rentan lainnya. Dengan cakupan penerima yang semakin luas, MBG di harapkan mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan stabilitas ekonomi nasional secara simultan.