Bencana tanah longsor – yang terjadi di wilayah Bandung Barat kembali menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Peristiwa ini menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan dan mendorong upaya penanganan intensif dari berbagai pihak. Hingga saat ini, proses pencarian dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terlibat di lapangan.
Berdasarkan laporan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah korban meninggal dunia akibat longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat mencapai 17 orang. Data tersebut di peroleh hingga Minggu, 25 Januari, dan masih berpotensi mengalami perubahan seiring berjalannya proses pencarian lanjutan.
Proses Identifikasi Korban oleh Tim DVI
Dalam penanganan korban bencana, identifikasi jenazah menjadi tahapan krusial sebelum di serahkan kepada pihak keluarga. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa sebagian korban telah berhasil di kenali oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).
Dari total korban meninggal yang di temukan, sebelas jenazah telah melalui proses identifikasi secara resmi. Sementara itu, enam jenazah lainnya masih berada dalam tahap pencocokan data. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena kondisi korban yang beragam, terutama akibat dampak material longsoran yang cukup besar.

Tim SAR gabungan kembali melanjutkan operasi pencarian korban longsor Cisarua, Bandung Barat. Dari laporan 105 hilang, 25 telah di evakuasi. 11 teridentifikasi.
Penyerahan Kantong Jenazah dan Tahapan Lanjutan
Tim SAR gabungan yang bertugas di lokasi bencana telah menyerahkan total 25 kantong jenazah kepada tim DVI. Jumlah tersebut mencakup jenazah yang telah teridentifikasi maupun yang masih dalam proses pemeriksaan lanjutan. Setiap kantong jenazah selanjutnya di proses secara sistematis untuk memastikan identitas korban dapat di pastikan dengan akurat.
Menurut keterangan BNPB, kecepatan proses identifikasi sangat di pengaruhi oleh kondisi jenazah yang di temukan. Apabila jenazah berada dalam kondisi relatif utuh dan di sertai identitas pendukung seperti kartu identitas atau ciri medis, proses pencocokan dapat berlangsung lebih cepat.
Sebaliknya, apabila jenazah di temukan dalam bentuk bagian tubuh tertentu, maka tim membutuhkan waktu tambahan untuk melakukan pencocokan data ante mortem dengan data post mortem. Tahapan ini mencakup pemeriksaan sidik jari, struktur gigi, serta data pendukung lainnya yang tersedia.
Upaya Pencarian Korban yang Masih Hilang
Selain fokus pada identifikasi, tim gabungan juga terus melanjutkan operasi pencarian terhadap korban yang di laporkan masih hilang. Pencarian dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel serta kondisi geografis lokasi bencana yang cukup sulit di jangkau.
Pada Senin, 26 Januari, operasi pencarian kembali di lanjutkan dengan memanfaatkan teknologi pemetaan udara. Titik-titik pencarian di fokuskan pada area yang sebelumnya telah di analisis melalui citra drone. Metode ini di nilai efektif untuk mengidentifikasi area yang berpotensi tertimbun material longsor dalam jumlah besar.
Koordinasi antara tim SAR, BNPB, aparat daerah, dan relawan terus di perkuat guna memastikan proses pencarian berjalan optimal. Seluruh langkah yang di ambil tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penghormatan terhadap para korban dan keluarga yang terdampak.
Komitmen Penanganan Bencana dan Perlindungan Masyarakat
Peristiwa longsor di Bandung Barat kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah rawan longsor. BNPB menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah dalam upaya penanganan darurat, pemulihan, serta mitigasi risiko bencana ke depan.
Melalui sinergi lintas sektor dan dukungan teknologi, di harapkan seluruh korban dapat segera di temukan dan di identifikasi secara layak. Di sisi lain, masyarakat juga di imbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada musim hujan yang berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.