Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Keputusan ini di ambil sebagai respons atas banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah dan menimbulkan dampak serius bagi masyarakat. Penetapan status tersebut menjadi langkah awal dalam mempercepat penanganan bencana secara terpadu.
Bencana banjir bandang yang terjadi tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur publik. Oleh karena itu, pemerintah daerah memandang perlu adanya kebijakan darurat guna mendukung efektivitas koordinasi lintas sektor. Langkah ini juga bertujuan mempercepat distribusi bantuan serta pemulihan awal di wilayah terdampak.
Landasan Kebijakan Penetapan Status Darurat
Status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di tetapkan untuk jangka waktu 14 hari. Masa berlaku dimulai pada 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Kebijakan tersebut di tuangkan dalam surat edaran resmi yang di keluarkan oleh Bupati Kepulauan Sitaro.
Selain sebagai dasar hukum, status ini memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, mobilisasi sumber daya dapat dilakukan secara cepat. Anggaran darurat juga dapat digunakan sesuai kebutuhan lapangan. Sementara itu, koordinasi antarinstansi menjadi lebih terstruktur dan terarah.
Wilayah yang Mengalami Dampak Banjir Bandang
Banjir bandang berdampak pada empat kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Siau Timur, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Barat, dan Kecamatan Siau Barat Selatan. Keempat wilayah ini mengalami tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Di beberapa lokasi, pemukiman warga terdampak cukup parah. Selain itu, akses jalan utama terputus akibat material banjir. Kondisi tersebut menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan. Akibatnya, proses penanganan darurat membutuhkan upaya ekstra dari berbagai pihak.

Foto: BPBD Sitaro memperbaharui data banjir bandang: 13 meninggal, 18 luka-luka, 3 hilang. (dok. istimewa)
Dampak Terhadap Korban Jiwa dan Fasilitas Umum
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Sitaro, bencana ini menyebabkan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, 18 orang lainnya mengalami luka-luka. Hingga saat tertentu, beberapa warga masih dalam proses pencarian.
Selain korban manusia, kerusakan fasilitas umum juga menjadi perhatian utama. Sejumlah jembatan mengalami kerusakan berat. Sarana pendidikan dan tempat ibadah turut terdampak. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas sosial masyarakat. Oleh sebab itu, penanganan infrastruktur menjadi prioritas selama masa tanggap darurat.
Faktor Penyebab Terjadinya Banjir Bandang
Hasil kajian awal menunjukkan bahwa banjir bandang di picu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi. Hujan deras terjadi dalam durasi yang relatif singkat. Akibatnya, daya tampung lingkungan tidak mampu menahan aliran air.
Selain faktor curah hujan, kondisi geografis wilayah turut memengaruhi tingkat risiko bencana. Daerah kepulauan dengan topografi tertentu cenderung rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, mitigasi berbasis karakteristik wilayah menjadi hal yang penting untuk di perhatikan.
Upaya Penanganan dan Strategi Mitigasi
Selama masa tanggap darurat, pemerintah daerah memfokuskan upaya pada penyelamatan korban. Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi menjadi prioritas utama. Di sisi lain, layanan kesehatan darurat terus di optimalkan.
Sementara itu, perbaikan sementara akses jalan dilakukan secara bertahap. Langkah ini bertujuan memperlancar distribusi logistik. Selain penanganan jangka pendek, upaya mitigasi jangka panjang juga perlu di perkuat. Peningkatan sistem peringatan dini menjadi salah satu rekomendasi penting.
Sebagai penutup, kejadian banjir bandang ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya sangat di butuhkan. Dengan perencanaan yang tepat, risiko bencana di masa depan dapat di minimalkan.