El Nino – Para pakar kesehatan menekankan pentingnya penguatan upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD), terutama melalui vaksinasi untuk anak-anak dan orang dewasa. Langkah ini di nilai semakin penting di tengah meningkatnya risiko penyebaran penyakit yang di pengaruhi oleh perubahan iklim serta fenomena El Nino yang di perkirakan masih berlangsung hingga akhir 2026.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menjelaskan bahwa kenaikan suhu bumi berdampak langsung pada perilaku nyamuk penyebab dengue. Dengan demikian, risiko penularan penyakit juga ikut meningkat.

Ia menjelaskan bahwa pada kondisi suhu normal, nyamuk biasanya mengisap darah setiap lima hari. Namun, ketika suhu meningkat, frekuensi gigitan dapat berubah menjadi setiap dua hari. Oleh karena itu, peluang penularan virus dengue menjadi lebih tinggi.

Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi kering yang sering terjadi saat El Nino mendorong masyarakat menyimpan air dalam berbagai wadah. Akibatnya, wadah tersebut dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk jika tidak di kelola dengan baik.

DBD Tidak Hanya Mengancam Anak-Anak

Lebih lanjut, Sukamto menegaskan bahwa demam berdarah tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Berdasarkan data PAPDI, lebih dari separuh kasus dengue justru terjadi pada kelompok usia dewasa, khususnya usia produktif antara 15 hingga 44 tahun.

Dengan demikian, kelompok usia kerja memiliki risiko yang cukup tinggi terhadap infeksi dengue. Selain itu, ketika orang dewasa jatuh sakit, dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

Sukamto menegaskan bahwa orang dewasa tidak memiliki kekebalan terhadap dengue. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting untuk mengurangi beban penyakit di masyarakat.

Selain itu, infeksi dengue pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi serius. Risiko tersebut meningkat terutama pada pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Hingga saat ini, penanganan dengue masih bersifat suportif. Oleh sebab itu, pencegahan menjadi strategi utama dalam menghadapi penyakit ini.

Dorong Vaksinasi

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM dan Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) dalam acara memperingati ASEAN Dengue Day 2026 di Urban Forest, Jakarta Selatan, Jumat (19/06/2026).

Kerentanan Anak terhadap Infeksi DBD

Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menekankan bahwa anak-anak tetap menjadi kelompok paling rentan terhadap DBD.

Ia menyampaikan bahwa hampir 48 persen kasus dengue terjadi pada anak di bawah usia 14 tahun. Selain itu, kelompok usia 5 hingga 14 tahun menjadi penyumbang angka kematian tertinggi akibat penyakit ini.

Dengan demikian, perlindungan terhadap anak melalui pencegahan yang tepat menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, edukasi kepada orang tua juga diperlukan untuk mengurangi risiko penularan di lingkungan rumah.

Hartono juga menjelaskan bahwa virus dengue memiliki empat serotipe yang berbeda. Oleh karena itu, seseorang yang pernah terinfeksi masih dapat tertular kembali oleh serotipe lain dengan gejala yang lebih berat.

Selain itu, perjalanan penyakit dengue dapat memburuk dengan cepat ketika pasien memasuki fase kritis. Kondisi ini membuat penanganan medis harus dilakukan secara cepat dan tepat.

Vaksinasi sebagai Strategi Pencegahan Komprehensif

PAPDI dan IDAI menilai bahwa vaksinasi perlu menjadi bagian penting dari strategi pencegahan dengue yang komprehensif. Selain vaksinasi, upaya lain seperti pemberantasan sarang nyamuk, penerapan 3M Plus, serta edukasi masyarakat juga tetap di perlukan.

Dengan demikian, pencegahan tidak hanya bergantung pada satu pendekatan, tetapi memerlukan kombinasi berbagai strategi. Selain itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka kasus dengue.

Sukamto juga menyampaikan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi jadwal imunisasi dewasa PAPDI sejak 2025. Berdasarkan berbagai bukti ilmiah, vaksin tersebut dapat membantu menurunkan risiko dengue berat serta mengurangi kebutuhan perawatan di rumah sakit.

Kesimpulan: Pencegahan Menjadi Kunci Utama Menghadapi DBD

Secara keseluruhan, peningkatan risiko DBD akibat perubahan iklim dan El Nino menuntut langkah pencegahan yang lebih kuat. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi salah satu strategi penting yang perlu di perkuat, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Selain itu, kombinasi antara vaksinasi, pengendalian vektor, dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit. Dengan demikian, upaya terpadu di harapkan dapat melindungi kelompok rentan sekaligus mengurangi beban kesehatan masyarakat di masa mendatang.