Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan angkatan 2024 menyelenggarakan Festival Komunikasi Budaya 2026 sebagai kegiatan akademik tahunan. Acara tersebut berlangsung di Aula Suradiredja, Kampus I Universitas Pasundan Lengkong, Kota Bandung, dan di rancang sebagai bentuk implementasi langsung dari proses perkuliahan. Dengan mengangkat tema “Sawala Rupa Pasundan: Sadulur Sabilulungan,” mahasiswa berupaya memadukan unsur komunikasi dan kebudayaan dalam satu rangkaian kegiatan yang kreatif. Oleh karena itu, festival ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga wadah internalisasi nilai budaya.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 6 hingga 7 Januari 2026 ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Komunikasi Budaya dan Kearifan Lokal. Maka dari itu, seluruh mahasiswa di wajibkan terlibat secara aktif mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan acara. Selain bertujuan memenuhi kebutuhan akademik, festival tersebut juga menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi. Dengan demikian, mahasiswa dapat memahami bahwa budaya merupakan pesan sosial yang dapat di sampaikan melalui berbagai media. Selanjutnya, kegiatan ini di harapkan mampu membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian kebudayaan lokal.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unpas angkatan 2024 menyelenggarakan Festival Komunikasi Budaya 2026. Kegiatan digelar di Aula Suradiredja, Kampus I Unpas Lengkong, Bandung, 6-7 Januari 2026
Ketua pelaksana festival, Nur Ratih Devi Affandi, menjelaskan bahwa kegiatan ini di adakan sebagai bentuk komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan dalam menjaga identitas budaya Sunda. Menurutnya, budaya tidak cukup hanya di pelajari sebagai konsep teoritis di ruang kelas, tetapi juga harus di komunikasikan secara nyata. Dengan kata lain, mahasiswa ingin membuktikan bahwa komunikasi memiliki peran strategis dalam proses pelestarian budaya. Selain itu, festival ini di rancang agar mahasiswa dapat menjadikan kebudayaan sebagai pengalaman yang hidup. Sehingga, pembelajaran Ilmu Komunikasi tidak berhenti pada hafalan materi, melainkan berkembang ke arah praktik sosial.
Tujuan Strategis Festival dalam Perspektif Komunikasi Budaya
Festival Komunikasi Budaya 2026 memiliki tujuan utama untuk menumbuhkan rasa cinta mahasiswa terhadap budaya Kepasundanan. Pertama, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kembali nilai sabilulungan yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda. Kedua, festival ini dimaksudkan agar mahasiswa mampu memahami filosofi budaya secara lebih mendalam. Selanjutnya Vera menekankan bahwa seni dan budaya harus disampaikan dengan pendekatan komunikatif agar mudah di terima oleh generasi muda. Dengan demikian, festival ini di harapkan menjadi media pembelajaran kreatif yang relevan.
Selain fokus pada budaya Sunda, Festival Komunikasi Budaya 2026 juga menghadirkan berbagai budaya nasional. Dengan kata lain, kegiatan ini dirancang agar mahasiswa memiliki wawasan kebhinekaan yang lebih luas tentang kekayaan Indonesia. Maka dari itu, mahasiswa tidak hanya mengenal identitas lokal mereka sendiri, tetapi juga memahami keberagaman budaya Nusantara. Selain itu, festival ini menampilkan unsur kuliner tradisional, pakaian adat, serta prosesi kesenian daerah sebagai bagian dari strategi komunikasi. Sehingga, mahasiswa dapat melihat bahwa budaya dapat di perkenalkan melalui banyak bentuk ekspresi.
Dalam pelaksanaannya, festival ini menampilkan sebanyak 15 budaya Sunda dan 8 budaya nasional. Oleh karena itu, setiap kelompok mahasiswa bertanggung jawab menampilkan satu jenis budaya yang telah mereka teliti sebelumnya. Misalnya, terdapat tarian tradisional dari berbagai wilayah Pasundan yang dipertunjukkan kepada pengunjung. Selain itu, mahasiswa juga menampilkan pakaian adat yang memiliki makna simbolik tertentu. Sehingga, festival tersebut menjadi ruang edukasi yang menggabungkan seni, tradisi, dan komunikasi. Dengan demikian, pengunjung dapat menerima informasi budaya melalui pengalaman visual dan interaksi langsung.
Proses Riset Mahasiswa dalam Pendalaman Makna Budaya
Sebelum festival di laksanakan, mahasiswa melewati tahap persiapan berupa riset kebudayaan secara mendalam. Oleh sebab itu, setiap kelompok di wajibkan mempelajari latar belakang, sejarah, serta filosofi dari budaya yang akan di tampilkan. Dalam proses tersebut, mahasiswa menghadapi tantangan besar untuk mencari sumber informasi yang valid. Selain itu, mereka harus berdiskusi dan berkoordinasi dengan pelaku budaya agar memperoleh pemahaman utuh. Dengan demikian Vera menuturkan bahwa proses ini menjadi bagian penting dari kegiatan perkuliahan.
Menurut Nur Ratih, tantangan utama mahasiswa adalah bagaimana memahami makna budaya secara komprehensif sebelum mengomunikasikannya. Maka dari itu, mahasiswa tidak hanya berlatih menampilkan kesenian, tetapi juga harus mengerti nilai simbolik yang terkandung. Selain itu, mereka di tuntut untuk mampu menjelaskan filosofi budaya kepada khalayak secara tepat. Dengan kata lain, kegiatan ini mengajarkan bahwa komunikasi budaya membutuhkan tanggung jawab intelektual. Sehingga, festival ini tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga representasi hasil riset akademik mahasiswa.
Vera Hermawan sebagai Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan menjelaskan bahwa festival ini menjadi bukti pentingnya metode pembelajaran aplikatif. Pada dasarnya, Prodi Ilmu Komunikasi ingin menjadikan mahasiswa sebagai komunikator budaya yang kreatif. Oleh sebab itu, mereka di arahkan agar mampu menginternalisasi budaya Sunda dengan cara yang menyenangkan. Minimal, mahasiswa di beri kesempatan untuk berlatih dan mendalami sejarah kebudayaan yang di pilih. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
Peran Festival sebagai Media Internalisasi Budaya
Dekan FISIP Universitas Pasundan, Kunkurat, yang membuka acara Festival Komunikasi Budaya 2026 menyampaikan apresiasi tinggi kepada mahasiswa. Menurutnya, kegiatan ini selalu menghadirkan kebaruan dari angkatan ke angkatan, terutama melalui tema yang aktual. Dengan kata lain, festival ini tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Selain itu, ia menegaskan bahwa seni merupakan bagian penting dari kebudayaan yang sarat dengan nilai simbolik. Sehingga, kegiatan akademik seperti festival ini dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sosial mahasiswa.
Kunkurat juga menambahkan bahwa festival ini menjadi bukti bahwa pendidikan Ilmu Komunikasi harus mampu terlibat dalam pelestarian budaya lokal. Maka dari itu, kegiatan ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga menawarkan cara bagaimana mahasiswa mengenal budaya secara langsung. Selain itu, festival ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengemas pesan budaya dalam bentuk kreatif. Dengan demikian, nilai-nilai kearifan lokal dapat terus di wariskan kepada generasi muda. Sehingga, peran mahasiswa sebagai agen komunikasi budaya semakin terlihat nyata.
Menurut Vera, ketika mahasiswa ingin melestarikan budaya Sunda atau ngamumule, di perlukan strategi khusus agar mereka menyukai proses tersebut. Oleh sebab itu, festival ini di rancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengalami budaya secara langsung. Dengan demikian Vera menuturkan bahwa kegiatan ini menawarkan cara bagaimana mahasiswa mampu menginternalisasi budaya itu sendiri. Selain itu, mereka juga di tuntut menampilkan kesenian khas dari masing-masing wilayah sebagai bentuk ekspresi komunikasi. Sehingga, kemampuan komunikasi mahasiswa berkembang melalui praktik nyata.
Kesimpulan
Festival Komunikasi Budaya 2026 Universitas Pasundan dapat di pandang sebagai bentuk nyata implementasi pembelajaran Ilmu Komunikasi berbasis kearifan lokal. Dengan adanya kegiatan ini Vera menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar budaya sebagai teori, tetapi juga sebagai praktik komunikasi langsung. Selain itu, kegiatan ini melatih kemampuan riset, kreativitas, serta kerja sama tim dalam penyelenggaraan acara. Oleh sebab itu, Festival Komunikasi Budaya Unpas menjadi contoh strategis bagaimana kebudayaan dapat di komunikasikan secara kreatif dan edukatif.
Dengan demikian, mahasiswa di harapkan mampu menjadikan budaya sebagai bagian dari pengalaman komunikasi yang hidup. Selanjutnya, nilai-nilai kearifan lokal dapat terus di wariskan kepada generasi muda melalui pendekatan komunikatif. Sehingga, peran Ilmu Komunikasi dalam proses pelestarian budaya semakin terlihat nyata dalam lingkungan akademik. Pada akhirnya, Festival Komunikasi Budaya Universitas Pasundan berhasil menjadi model pembelajaran berbasis kebudayaan yang inovatif, relevan, serta SEO friendly bagi pengembangan kompetensi mahasiswa Ilmu Komunikasi di Indonesia.