Pelestarian budaya daerah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, keberadaan seni tradisi menghadapi tantangan serius, terutama dalam menarik minat generasi muda. Kabupaten Purworejo menjadi salah satu daerah yang secara konsisten berupaya menjaga identitas budaya lokal melalui berbagai kegiatan kesenian. Salah satu agenda budaya yang memiliki peran strategis dalam upaya tersebut adalah pagelaran Gendhing Setu Legi.
Pagelaran ini di selenggarakan secara rutin di Pendopo Kabupaten Purworejo dan menjadi ruang temu antara masyarakat, seniman, serta tradisi Jawa yang adiluhung. Suasana pendopo yang di terangi cahaya lampu lembut, berpadu dengan alunan gendhing dan tembang Jawa, menciptakan nuansa tenang sekaligus sakral. Kehadiran gamelan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya yang sarat makna.
Gendhing Setu Legi sebagai Ruang Ekspresi Budaya
Gendhing Setu Legi merupakan agenda budaya yang di gagas oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini di laksanakan setiap Sabtu pada penanggalan pasaran Legi dalam kalender Jawa. Pemilihan waktu tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap sistem penanggalan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.
Melalui pagelaran ini, seni tradisi tidak hanya di pertontonkan, tetapi juga di hidupkan kembali dalam konteks kekinian. Para seniman lokal di berikan ruang untuk menampilkan karya terbaik mereka, mulai dari karawitan, tembang Jawa, hingga bentuk ekspresi seni lainnya. Hal ini menjadikan Gendhing Setu Legi sebagai wadah kreativitas yang inklusif dan berkelanjutan.
Makna Khusus dalam Peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo
Pelaksanaan Gendhing Setu Legi kali ini memiliki makna yang lebih mendalam karena menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo. Momentum ini di manfaatkan tidak hanya sebagai perayaan usia daerah, tetapi juga sebagai ajang refleksi terhadap perjalanan panjang Purworejo dalam menjaga identitas budayanya.
Peringatan hari jadi daerah tidak semata-mata di pahami sebagai penanda waktu, melainkan sebagai kesempatan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Seni dan budaya lokal menjadi salah satu unsur penting yang perlu terus di rawat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Pagelaran Gending Setu Legi di Pendopo Kabupaten Purworejo
Peran Pemerintah Daerah dalam Keberlanjutan Seni Tradisi
Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, yang hadir langsung menyaksikan pagelaran tersebut, menegaskan pentingnya keberlanjutan seni tradisi di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Menurutnya, masuknya budaya global tanpa batas dapat berdampak pada menurunnya minat terhadap seni lokal apabila tidak di imbangi dengan upaya pelestarian yang nyata.
Pemerintah daerah memandang Gendhing Setu Legi bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebagai strategi kultural untuk menjaga eksistensi budaya lokal. Dengan adanya ruang ekspresi yang rutin dan terbuka, masyarakat di harapkan semakin dekat dengan seni tradisi. Sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya daerah.
Budaya sebagai Perekat Sosial dan Identitas Daerah
Lebih jauh, pelaksanaan kegiatan budaya seperti Gendhing Setu Legi memiliki fungsi sosial yang penting. Seni tradisi berperan sebagai perekat kebersamaan masyarakat dalam semangat guyub rukun. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal menjadi landasan bagi terciptanya persatuan dan harmoni sosial.
Dalam konteks pembangunan daerah, kemajuan tidak hanya di ukur dari aspek fisik dan ekonomi. Tetapi juga dari kekuatan identitas budaya yang di miliki. Dengan menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat Purworejo di harapkan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Kesimpulan
Gendhing Setu Legi merupakan contoh nyata bagaimana seni tradisi dapat di hadirkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya Jawa di Purworejo. Tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan identitas daerah. Melalui komitmen yang konsisten, budaya lokal dapat terus hidup dan relevan di tengah dinamika masyarakat modern.