Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan. Salah satunya adalah kemudahan membeli barang melalui platform belanja daring. Namun demikian, kemudahan ini tidak selalu di gunakan secara tepat. Dalam beberapa kasus, akses bebas terhadap atribut tertentu justru membuka celah terjadinya penyamaran identitas profesi.
Fenomena ini tercermin dalam kasus seorang perempuan bernama Khairun Nisa yang menyamar sebagai pramugari maskapai Batik Air. Aksi tersebut menimbulkan perhatian publik karena melibatkan penggunaan seragam dan perlengkapan yang menyerupai atribut resmi penerbangan. Seluruh barang tersebut diperoleh melalui toko online, tanpa keterlibatan pihak maskapai.
Atribut Profesi dan Kemudahan Akses Melalui Platform Online
Pada dasarnya, atribut profesi memiliki fungsi simbolik dan institusional. Seragam pramugari, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai pakaian kerja, tetapi juga sebagai identitas resmi yang melekat pada sistem keselamatan dan pelayanan penerbangan. Akan tetapi, dalam praktiknya, berbagai atribut tersebut kini dapat diperoleh dengan mudah melalui internet.
Dalam kasus ini, sejumlah barang yang digunakan Nisa meliputi kebaya putih, rok batik bernuansa ungu, sepatu wedges, kartu identitas, koper, serta tas bertuliskan nama maskapai. Seluruh perlengkapan tersebut di amankan oleh pihak kepolisian bandara. Meski terlihat menyerupai perlengkapan resmi, barang-barang tersebut tidak di keluarkan oleh institusi penerbangan.
Di sisi lain, kemudahan akses ini menunjukkan lemahnya pembatasan distribusi atribut yang seharusnya bersifat terbatas. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi institusi yang mengandalkan simbol visual sebagai bagian dari sistem profesionalisme.

Foto: Polisi mengamankan seragam hingga koper milik pramugari gadungan di Bandara Soekarno-Hatta.
Tekanan Psikologis dan Dorongan Emosional Individu
Jika di tinjau dari aspek psikologis, tindakan penyamaran ini tidak semata-mata di dorong oleh niat buruk. Sebaliknya, terdapat tekanan emosional yang cukup kuat di balik keputusan tersebut. Nisa di ketahui pernah mengikuti proses rekrutmen pramugari dan telah mengeluarkan biaya besar. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Akibatnya, muncul rasa takut dan cemas terhadap respons orang tua. Selain itu, terdapat keinginan besar untuk tetap terlihat berhasil di mata keluarga. Dalam kondisi seperti ini, penyamaran di pilih sebagai jalan pintas untuk menjaga citra diri. Walaupun demikian, pilihan tersebut tetap mengandung risiko sosial yang tinggi.
Dengan demikian, kasus ini memperlihatkan bagaimana tekanan keluarga dan ekspektasi sosial dapat memengaruhi pengambilan keputusan individu. Terlebih lagi, ketika kegagalan dianggap sebagai sesuatu yang sulit di terima secara terbuka.
Kecurigaan Awak Kabin dan Respons Keamanan Penerbangan
Selanjutnya, penyamaran tersebut terungkap saat Nisa melakukan perjalanan udara sebagai penumpang. Ia masih mengenakan atribut pramugari karena keterbatasan waktu. Situasi ini kemudian menimbulkan kecurigaan dari awak kabin. Salah satu faktor pemicunya adalah perbedaan motif rok yang di kenakan.
Selain itu, respons Nisa yang tidak meyakinkan saat di tanya mengenai pelatihan pramugari semakin memperkuat dugaan adanya ketidaksesuaian identitas. Awak kabin kemudian berkoordinasi dengan petugas keamanan bandara. Proses ini berujung pada pemeriksaan oleh pihak kepolisian.
Meskipun demikian, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa tidak di temukan unsur pidana. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak di tahan. Pihak maskapai juga memilih untuk tidak melanjutkan persoalan ini ke ranah hukum.
Refleksi Sosial atas Kasus Penyamaran Profesi
Secara sosial, peristiwa ini memberikan pelajaran penting mengenai identitas, tekanan sosial, dan penggunaan teknologi. Penyamaran profesi tidak selalu berangkat dari niat kriminal. Dalam beberapa kondisi, tindakan tersebut muncul sebagai bentuk pelarian dari tekanan psikologis.
Namun demikian, tetap di perlukan kesadaran kolektif mengenai batasan etis dalam penggunaan atribut profesi. Institusi perlu memperkuat edukasi publik terkait penggunaan simbol resmi. Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun ruang yang lebih aman untuk menerima kegagalan tanpa stigma.
Dengan demikian, kasus ini tidak hanya relevan sebagai peristiwa individual, tetapi juga sebagai cerminan dinamika sosial di era digital. Kombinasi antara kemudahan teknologi dan tekanan sosial menjadi faktor penting yang perlu di kaji lebih lanjut dalam konteks kehidupan modern.