Hutan Tropis – memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Selain menjadi habitat bagi jutaan spesies flora dan fauna, kawasan ini juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Namun, meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim mulai mengganggu kemampuan hutan tropis menjalankan fungsi tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa suhu yang semakin tinggi membuat pohon-pohon mengalami tekanan fisiologis sehingga proses fotosintesis tidak lagi berlangsung secara optimal. Jika kondisi ini terus berlanjut, kemampuan hutan dalam menyerap karbon di perkirakan akan terus menurun dan mempercepat laju pemanasan global.

Suhu Panas Menghambat Proses Fotosintesis Pohon

Fotosintesis merupakan proses alami yang memungkinkan tumbuhan menghasilkan makanan dengan memanfaatkan cahaya matahari, air, dan karbon dioksida. Melalui mekanisme ini pula, tumbuhan menghasilkan oksigen sekaligus mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer.

Akan tetapi, penelitian yang di publikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan. Bahwa setiap jenis pohon memiliki batas suhu tertentu agar fotosintesis tetap berjalan secara efektif. Secara umum, suhu ideal berada di kisaran 15 derajat Celsius.

Ketika suhu udara meningkat akibat gelombang panas, kekeringan, maupun dampak perubahan iklim, batas toleransi tersebut mulai terlampaui. Kondisi ini menyebabkan proses fotosintesis melemah sehingga pertumbuhan pohon menjadi terhambat.

Para peneliti menjelaskan bahwa saat suhu melebihi ambang kritis, kemampuan tanaman menyerap karbon di oksida akan menurun. Akibatnya, risiko kerusakan hingga kematian pohon meningkat secara signifikan.

Penelitian Memanfaatkan Data Satelit Selama Dua Dekade

Riset yang dilakukan oleh tim dari Institut Teknologi Federal Swiss di Lausanne (EPFL) mengombinasikan data batas ketahanan panas dari sekitar 200 spesies pohon dengan hasil pemantauan satelit terhadap hutan tropis selama periode 2001 hingga 2020.

Melalui pendekatan tersebut, para ilmuwan dapat memetakan wilayah hutan yang mengalami tekanan panas secara lebih akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas kawasan hutan tropis yang suhu kanopi pohonnya telah melampaui batas aman meningkat cukup tajam dalam kurun dua puluh tahun terakhir.

Pada awal periode pengamatan, luas wilayah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 43 juta hektare. Namun, pada akhir periode penelitian, angkanya bertambah menjadi sekitar 57 juta hektare.

Apabila tren pemanasan global tidak berhasil di tekan, para peneliti memperkirakan luas hutan yang mengalami tekanan panas akan terus bertambah. Pada tahun 2050, area tersebut di proyeksikan mencapai lebih dari 93 juta hektare. Sedangkan menjelang tahun 2100 luasnya di perkirakan dapat meningkat hingga sekitar 160 juta hektare.

Temuan ini menjadi salah satu penelitian pertama yang menggabungkan informasi ketahanan panas berbagai spesies pohon dengan pengamatan satelit berskala luas untuk mengevaluasi tingkat stres panas pada hutan tropis.

Ilustrasi hutan tropis yang mengalami suhu ekstrem sehingga kemampuan pohon menyerap karbon melalui fotosintesis menurun.

ilustrasi hutan

Dampak Tidak Hanya Terjadi di Wilayah Tropis

Meskipun penelitian berfokus pada kawasan tropis, para ilmuwan menegaskan bahwa dampak suhu ekstrem juga mulai di rasakan di wilayah beriklim sedang.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas yang terjadi di Swiss di laporkan menyebabkan sejumlah pohon dan tanaman pertanian mengalami kondisi serupa. Yaitu melampaui batas suhu yang masih dapat di toleransi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ancaman perubahan iklim kini tidak lagi terbatas pada kawasan tropis, melainkan telah meluas ke berbagai belahan dunia.

Ketua tim penelitian, Charlotte Grossiord, menjelaskan bahwa pemetaan ini memungkinkan para ilmuwan mengidentifikasi kawasan yang paling rentan terhadap tekanan panas. Dengan demikian, berbagai langkah mitigasi dan strategi konservasi dapat dipersiapkan lebih awal untuk menghadapi perubahan iklim pada dekade mendatang.

Kerusakan Fotosintesis Mengganggu Ekosistem Hutan

Suhu yang terlalu tinggi tidak hanya memperlambat proses fotosintesis, tetapi juga merusak berbagai protein penting yang berperan dalam reaksi kimia di dalam daun.

Ketika protein tersebut mengalami kerusakan, kemampuan pohon dalam menyerap karbon dioksida ikut menurun sehingga pertumbuhannya menjadi tidak optimal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan angka kematian pohon dan mengubah komposisi vegetasi di dalam hutan.

Perubahan jenis tumbuhan berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Hilangnya beberapa spesies tanaman dapat berdampak pada keberlangsungan berbagai jenis satwa yang bergantung pada tumbuhan tersebut sebagai sumber makanan maupun habitat.

Selain itu, berkurangnya keanekaragaman hayati juga membuat ekosistem hutan menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, kebakaran, serta gelombang panas berikutnya.

Penurunan Daya Serap Karbon Berpotensi Mempercepat Pemanasan Global

Hutan tropis selama ini di kenal sebagai salah satu penyerap karbon terbesar di dunia. Oleh karena itu, menurunnya kemampuan kawasan tersebut dalam menyerap karbon di oksida dapat mempercepat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer.

Tidak hanya itu, hutan yang mengalami tekanan panas juga menghasilkan lebih sedikit uap air melalui proses transpirasi. Berkurangnya pelepasan uap air dapat mengganggu siklus hidrologi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kekeringan maupun cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Meskipun demikian, para peneliti masih melihat adanya peluang adaptasi pada sebagian spesies pohon. Beberapa jenis tanaman yang memiliki toleransi panas lebih tinggi di perkirakan mampu bertahan dan secara bertahap menggantikan spesies yang tidak sanggup menghadapi kenaikan suhu.

Namun, hingga saat ini para ilmuwan masih belum dapat memastikan seberapa cepat proses adaptasi tersebut berlangsung. Ataupun batas suhu maksimum yang benar-benar masih dapat di toleransi oleh berbagai jenis pohon. Oleh sebab itu, upaya mengurangi laju perubahan iklim dan menjaga kelestarian hutan tetap menjadi langkah penting untuk mempertahankan fungsi hutan tropis sebagai penyangga iklim bumi sekaligus penyerap karbon alami.