Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) – memberikan penjelasan terbaru mengenai status Solehah Yaacob setelah berbagai pandangannya tentang sejarah dan peradaban Melayu menjadi perbincangan. Pihak universitas memastikan bahwa Solehah sudah tidak tercatat sebagai tenaga akademik di institusi tersebut.

Berdasarkan keterangan IIUM yang di sampaikan pada 23 Agustus 2026, hubungan kerja Solehah dengan universitas telah berakhir sejak 27 April 2026. Oleh karena itu, ia tidak lagi memiliki posisi sebagai profesor maupun kewenangan untuk bertindak atas nama IIUM dalam kegiatan resmi.

Selain memberikan kepastian mengenai status tersebut, universitas meminta agar Solehah tidak menggunakan jabatan, gelar, ataupun bentuk afiliasi yang dapat menimbulkan anggapan bahwa dirinya masih mewakili IIUM. Ketentuan tersebut berlaku untuk berbagai sarana komunikasi yang di tujukan kepada masyarakat.

Dengan demikian, nama IIUM tidak boleh di cantumkan sebagai afiliasi resmi Solehah dalam materi promosi, publikasi, iklan, pemberitaan, unggahan media sosial, maupun bentuk publisitas lainnya. Penegasan tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus melindungi kredibilitas akademik universitas.

Di sisi lain, perhatian terhadap Solehah tidak terlepas dari sejumlah teori yang pernah ia sampaikan. Beberapa gagasannya memicu diskusi karena membahas sejarah Melayu dengan sudut pandang yang berbeda dari pandangan umum.

Teori Solehah Yaacob Mulai Ramai Di Bicarakan

Sebelum tidak lagi berafiliasi dengan IIUM, Solehah di kenal memiliki latar belakang akademik dalam bidang bahasa Arab dan linguistik. Namun, namanya mulai mendapat perhatian lebih luas ketika pembahasannya menyentuh sejarah peradaban dan teknologi masyarakat Melayu pada masa lampau.

Pada 2025, misalnya, ia mengemukakan hipotesis mengenai kemungkinan hubungan antara kemampuan maritim masyarakat Melayu dan teknologi pembuatan kapal bangsa Romawi kuno. Pernyataan tersebut kemudian tersebar luas setelah cuplikan pembahasannya muncul di media sosial.

Selanjutnya, Solehah menjelaskan bahwa gagasan itu tidak di maksudkan sebagai kesimpulan sejarah yang telah terbukti secara mutlak. Menurut penjelasannya, pemikiran tersebut masih berupa hipotesis yang di kembangkan dari pembacaan terhadap sejumlah sumber klasik berbahasa Arab.

Meskipun demikian, pernyataan tersebut tetap menimbulkan perdebatan. Bahkan, Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Datuk Seri Zambry Abdul Kadir turut mengingatkan pentingnya kehati-hatian bagi akademisi ketika berbicara mengenai persoalan yang berada di luar bidang keahlian utama mereka.

Sementara itu, IIUM sebelumnya juga telah mengambil jarak dari pandangan tersebut. Universitas menjelaskan bahwa pernyataan Solehah merupakan pendapat pribadi sehingga tidak dapat di anggap sebagai pandangan resmi institusi.

Gagasan tentang Kemampuan Terbang Melayu Kuno

Selain pembahasan mengenai teknologi maritim, Solehah pernah menjadi perhatian karena gagasannya tentang masyarakat Melayu kuno. Salah satu pernyataan yang kemudian ramai di perbincangkan berkaitan dengan dugaan kemampuan orang Melayu pada masa lampau untuk terbang.

Tidak hanya itu, ia juga pernah mengaitkan masyarakat Melayu kuno dengan pengetahuan yang di gambarkan sebagai “kungfu terbang”. Menurut klaim yang beredar, kemampuan tersebut di sebut pernah di ajarkan kepada masyarakat China.

Akibat penyebaran informasi tersebut melalui media sosial, nama Solehah semakin di kenal di luar lingkungan akademik. Namun, pada saat yang sama, pertanyaan mengenai dasar sejarah dan bukti pendukung teori tersebut juga semakin banyak muncul.

Oleh sebab itu, kontroversi tersebut berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai cara sebuah hipotesis sejarah seharusnya di perkenalkan kepada masyarakat. Terlebih lagi, informasi yang disampaikan melalui platform digital dapat menyebar jauh lebih cepat di bandingkan pembahasan dalam forum akademik.

Hubungan Pelaut Melayu dan Teknologi Kapal Romawi

Teori mengenai hubungan masyarakat Melayu dengan bangsa Romawi menjadi salah satu gagasan Solehah yang paling banyak mendapatkan perhatian.

Dalam pemikirannya, terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan maritim yang di miliki pelaut Melayu telah di ketahui atau di pelajari bangsa Romawi kuno. Secara khusus, pembahasannya berkaitan dengan teknik pembuatan kapal.

Setelah teori tersebut ramai di perdebatkan, Solehah memberikan konteks bahwa gagasan itu merupakan bagian dari eksplorasi akademiknya terhadap dokumen berbahasa Arab. Dengan kata lain, ia menempatkan pandangan tersebut sebagai hipotesis yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Namun demikian, kritik tetap muncul. Sejumlah pihak menilai bahwa hubungan langsung antara teknologi kapal Melayu dan Romawi membutuhkan dukungan data sejarah, arkeologi, serta sumber primer yang kuat sebelum dapat dikembangkan menjadi kesimpulan yang lebih jauh.

Karena itulah, polemik tersebut tidak hanya membicarakan isi teori. Perdebatan juga menyentuh persoalan metodologi penelitian dan tanggung jawab akademisi dalam membedakan antara kemungkinan, hipotesis, serta fakta sejarah yang sudah mendapatkan dukungan bukti.

Solehah Yaacob dan kontroversi teori sejarah Melayu setelah tak lagi berafiliasi dengan IIUM

Akademisi Malaysia Solehah Yaacob Tak Lagi di IIUM, Ini Deretan Teori Kontroversialnya

Kandungan Besi di Kedah Di Kaitkan dengan Meteor

Pada Agustus 2026, Solehah kembali menarik perhatian setelah mengangkat pembahasan berbeda. Kali ini, ia mempertanyakan asal-usul kekayaan bijih besi yang terdapat di Kedah.

Solehah mengemukakan kemungkinan adanya keterkaitan antara kandungan besi di wilayah tersebut dan aktivitas meteor pada masa lampau. Teori itu kemudian kembali memancing diskusi karena menyentuh bidang yang berkaitan dengan sejarah sekaligus proses geologi.

Meski demikian, dugaan tersebut menghadapi pertanyaan serupa dengan teori-teori sebelumnya. Para pengkritik mempertanyakan data ilmiah yang dapat membuktikan adanya hubungan antara peristiwa meteor dengan keberadaan sumber bijih besi di Kedah.

Dengan munculnya kontroversi baru tersebut, perhatian terhadap Solehah kembali meningkat. Beberapa kalangan akademik pun menekankan bahwa sebuah dugaan ilmiah membutuhkan proses pengujian, pembuktian, serta dukungan penelitian sebelum dapat di terima sebagai penjelasan yang kuat.

Teori Kontroversial Menjangkau Audiens Lebih Luas

Menariknya, perdebatan mengenai pemikiran Solehah tidak hanya berlangsung dalam lingkungan akademik. Teori-teori tersebut juga memperoleh perhatian masyarakat melalui media sosial dan berbagai kegiatan publik.

James Chin, akademisi yang menekuni studi Asia di University of Tasmania, termasuk salah satu pihak yang memberikan kritik. Ia menilai popularitas teori kontroversial berpotensi berkembang menjadi daya tarik dalam aktivitas yang bersifat komersial.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah rencana kehadiran Solehah sebagai pembicara dalam acara “Pelayaran Peradaban Islam 3.0”. Kegiatan tersebut di jadwalkan berlangsung mulai 30 November hingga 3 Desember 2026 dengan perjalanan dari Port Klang menuju Phuket.

Dalam agenda acara, Solehah di rencanakan membawakan pembahasan bertajuk “Misteri Penipuan Kapal Romawi”. Kehadirannya menunjukkan bahwa diskusi mengenai teori tersebut telah bergerak dari ruang akademik menuju forum yang menyasar masyarakat lebih luas.

Menurut Chin, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa gagasan yang memicu kontroversi dapat memperoleh ruang baru ketika mendapatkan perhatian publik. Apalagi, media sosial memungkinkan sebuah teori menjangkau audiens dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.

Solehah Menempuh Jalur Hukum

Sementara polemik mengenai teori-teorinya terus berkembang, persoalan antara Solehah dan IIUM juga memasuki ranah hukum. Solehah di ketahui berupaya menggugat keputusan terkait berakhirnya masa kerjanya melalui Mahkamah Perusahaan Malaysia.

Ia menilai proses penghentian tersebut berlangsung secara tidak profesional. Di sisi lain, IIUM tetap menegaskan bahwa hubungan akademik Solehah dengan universitas telah berakhir sejak 27 April 2026.

Dengan demikian, persoalan ini memiliki dua sisi yang berbeda. Pertama, terdapat sengketa mengenai hubungan kerja antara Solehah dan universitas. Kedua, muncul perdebatan mengenai berbagai teori sejarah yang pernah ia sampaikan kepada publik.

Pada akhirnya, kontroversi Solehah Yaacob memperlihatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan hipotesis akademik kepada masyarakat. Sebuah gagasan penelitian memang dapat membuka ruang diskusi baru. Akan tetapi, teori tersebut tetap membutuhkan metode yang jelas, sumber yang dapat diverifikasi, serta bukti pendukung sebelum diperlakukan sebagai fakta sejarah.

Selain itu, penyebaran informasi melalui media sosial membuat tanggung jawab tersebut semakin penting. Sebab, sebuah pernyataan dapat dengan cepat tersebar tanpa konteks lengkap. Oleh karena itu, pemisahan antara hipotesis, pendapat pribadi, dan temuan yang telah teruji menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas informasi akademik di ruang publik.