Bencana longsor – yang terjadi di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Januari 2026 merupakan peristiwa geologi kompleks yang tidak dapat di kategorikan sebagai kejadian alam biasa. Peristiwa ini menelan puluhan korban jiwa dan meninggalkan kerusakan besar pada kawasan permukiman serta lahan pertanian. Berdasarkan kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), longsor tersebut di picu oleh kombinasi berbagai faktor alam dan aktivitas manusia yang saling berinteraksi.
Kondisi Geologi dan Morfologi Wilayah
Wilayah Cisarua berada pada zona pegunungan vulkanik tua yang memiliki karakteristik geologi tidak stabil. Material penyusun lereng di dominasi oleh endapan piroklastik tua Gunung Burangrang yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut. Tingkat pelapukan ini menyebabkan batuan kehilangan kekuatan geser sehingga mudah mengalami kegagalan lereng, terutama saat berada dalam kondisi jenuh air.
Secara morfologi, bagian atas lereng atau mahkota longsor memiliki kemiringan sangat curam, berkisar antara 35 hingga 55 derajat. Sementara itu, lereng bagian tengah hingga bawah memiliki kemiringan lebih landai, sekitar 8 hingga 16 derajat. Perbedaan kemiringan ini menciptakan kondisi akumulasi energi pada lereng atas yang kemudian dilepaskan secara cepat ke bagian bawah.
Peran Curah Hujan Ekstrem
Faktor pemicu utama longsor Cisarua adalah curah hujan ekstrem yang terjadi secara terus-menerus sebelum kejadian. Intensitas hujan tercatat melebihi 220 milimeter per hari, angka yang sangat tinggi untuk wilayah pegunungan dengan kondisi tanah rapuh. Hujan deras ini meningkatkan tekanan air pori dalam tanah, menurunkan kuat geser material lereng, dan mempercepat terjadinya kegagalan struktural pada lereng.
Air yang meresap ke dalam tanah juga berkontribusi pada pembentukan material plastis yang mudah mengalir. Ketika tanah kehilangan kekuatannya, longsoran berkembang menjadi aliran bahan rombakan atau debris flow yang bergerak cepat mengikuti lembah alami.

Longsor Cisarua
Dinamika Pergerakan Material Longsor
Pergerakan longsor di Cisarua tidak terjadi dalam satu fase tunggal. Berdasarkan pemodelan geologi, terdapat dua hingga tiga kali suplai material dengan energi besar yang mengalir menuju area landaan. Material longsoran bercampur dengan air membentuk aliran yang sangat destruktif dan memiliki daya erosi tinggi.
Panjang total aliran longsor mencapai sekitar 3,7 kilometer. Bagian atas lereng sepanjang kurang lebih 1,7 kilometer menunjukkan zona hutan yang tergerus kuat oleh aliran debris. Sementara itu, bagian bawah sepanjang sekitar 2 kilometer di dominasi oleh lahan pertanian dan permukiman yang mengalami kerusakan parah.
Kecepatan aliran material menjadi faktor kritis dalam tingginya jumlah korban. Dari simulasi pemodelan, material longsor hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 menit sejak terlepas dari mahkota lereng hingga menghantam permukiman warga. Waktu yang sangat singkat ini menyebabkan minimnya kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri.
Pengaruh Bekas Aliran Sungai Lama
Salah satu temuan penting dalam kajian PVMBG adalah fakta bahwa jalur longsor mengikuti bekas aliran sungai lama. Aliran material tidak bergerak secara acak, melainkan memanfaatkan jalur alami yang telah terbentuk sebelumnya. Berdasarkan data historis dan keterangan warga setempat, jalur tersebut dulunya merupakan sungai kecil atau parit alami.
Ketika volume material longsor melampaui kapasitas lereng, alam secara alami memilih jalur dengan hambatan paling kecil. Bekas alur sungai ini kemudian “di aktifkan kembali” oleh limpasan material longsor, memperluas arah pergerakan ke selatan sebelum berbelok ke barat dan meningkatkan luas dampak bencana.
Potensi Longsor Susulan dan Implikasi Mitigasi
Berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah, wilayah Kecamatan Cisarua termasuk dalam kategori kerentanan menengah hingga tinggi. Kondisi geologi, morfologi, hidrologi, serta tata guna lahan yang ada menunjukkan bahwa potensi pergerakan tanah susulan masih terbuka.
Seluruh parameter pendukung terjadinya longsor masih di temukan di lapangan, meskipun kejadian susulan tidak dapat dipastikan waktunya. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan, pengendalian tata guna lahan, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi bencana di wilayah rawan longsor seperti Cisarua.