Tiga tahun kemudian, suasananya berubah. Kebakaran besar pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, menghanguskan banyak bangunan di kawasan desa adat tersebut. Musibah itu turut merusak berbagai benda yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Sade.
Sebelum kebakaran terjadi, Desa Sade menawarkan pengalaman wisata budaya yang khas. Perjalanan dari Kota Mataram menuju kampung yang berada di Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, membutuhkan waktu sekitar 50 menit menggunakan kendaraan.
Lokasinya yang berada di tepi Jalan Raya Praya-Kuta membuat kawasan tersebut relatif mudah dijangkau. Sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang di Dusun Sasak Sade” menjadi penanda bagi wisatawan sebelum memasuki kawasan permukiman.
Nuansa Tradisional Menyambut Pengunjung Desa Sade
Suasana khas masyarakat Sasak langsung terasa setelah wisatawan melewati pintu masuk. Rumah-rumah dengan atap alang-alang kering berdiri mengikuti kontur tanah. Pada sejumlah sudut, masyarakat setempat menawarkan kerajinan sekaligus memperlihatkan aktivitas sehari-hari.
Pengunjung juga dapat menyaksikan warga mengenakan kain tenun khas Sasak. Sementara itu, alunan Gendang Beleq kerap menghadirkan suasana meriah ketika pertunjukan budaya berlangsung.
Salah satu atraksi yang menarik perhatian ialah Peresean. Tradisi tersebut menampilkan dua pepadu atau petarung yang membawa tongkat rotan dan perisai berbahan kulit kerbau.
Dalam pertunjukan itu, seorang pakembar bertugas mengatur jalannya pertandingan. Petarung hanya boleh mengarahkan serangan ke bagian tubuh tertentu dan tidak diperkenankan menyerang area di bawah pinggang.
Peresean bukan semata-mata memperlihatkan keberanian. Tradisi tersebut juga membawa nilai ketangkasan, sportivitas, dan penghormatan terhadap aturan. Ketika dipentaskan untuk wisatawan, masyarakat mengemas atraksi tersebut secara lebih aman dan menghibur. Bahkan, pengunjung terkadang mendapat kesempatan mencoba Peresean dengan intensitas ringan.
Keunikan Rumah Adat Masyarakat Sasak
Perjalanan ke bagian dalam kampung memperlihatkan karakter arsitektur Desa Sade. Salah satu ciri yang mudah dikenali terdapat pada bentuk rumah dengan bagian atap dan pintu masuk relatif rendah.
Ketinggiannya sekitar 1,5 hingga 2 meter sehingga orang yang hendak masuk harus menundukkan tubuh. Bentuk tersebut tidak hanya berkaitan dengan rancangan bangunan.
Masyarakat memaknainya sebagai pengingat untuk menghormati pemilik rumah. Gerakan menunduk menggambarkan kerendahan hati dan kesopanan ketika seseorang memasuki kediaman orang lain.
Susunan permukiman yang mengikuti kontur tanah juga menciptakan lanskap bertingkat. Karena itu, wisatawan dapat berjalan menuju titik yang lebih tinggi untuk melihat hamparan rumah tradisional dari sudut pandang yang lebih luas.
Tradisi Belulut dan Perawatan Lantai Rumah
Keunikan lain yang dikenal dari kehidupan masyarakat Sade ialah tradisi belulut. Warga menggunakan campuran kotoran sapi dan air untuk merawat permukaan lantai rumah.
Campuran tersebut mereka ratakan pada lantai sebelum membiarkannya mengering. Selanjutnya, permukaan lantai dipoles memakai batu agar menjadi lebih padat.
Masyarakat setempat mempercayai metode tersebut dapat membantu mengurangi debu dan menjaga lantai agar tidak mudah retak. Selain itu, terdapat keyakinan tradisional bahwa belulut mampu menjauhkan serangga serta menangkal pengaruh magis.
Bagi wisatawan, tradisi tersebut mungkin terdengar tidak biasa. Namun, bagi masyarakat Sade, praktik itu merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang di wariskan antargenerasi.

Gapura Selamat Datang Desa Adat Sade
Kain Tenun Menjadi Bagian Kehidupan Perempuan Sade
Selain arsitektur rumah, kain tenun menjadi identitas kuat Desa Sade. Sebelum kebakaran, perempuan yang mengoperasikan alat tenun tradisional menjadi pemandangan yang mudah di temukan ketika wisatawan menyusuri lorong kampung.
Mereka mengerjakan kain secara manual menggunakan peralatan berbahan kayu dan bambu. Prosesnya membutuhkan ketelitian serta kesabaran karena penyelesaian satu kain dapat memakan waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada tingkat kerumitan motif.
Keahlian menenun juga mempunyai posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Perempuan Sade mempelajari keterampilan tersebut sejak usia muda, bahkan sekitar sembilan tahun.
Dalam tradisi setempat, kemampuan menenun berkaitan dengan proses menuju kedewasaan. Seorang perempuan di anggap telah memiliki salah satu keterampilan penting ketika mampu menghasilkan kain tenun secara mandiri.
Kopi Beras, Racikan Khas Masyarakat Sasak
Pengalaman mengunjungi Desa Sade tidak hanya berkaitan dengan rumah adat dan kain tenun. Kampung tersebut juga memiliki racikan kopi khas yang memadukan biji kopi dengan beras.
Masyarakat menyangrai kopi dan beras secara bersamaan. Setelah matang, keduanya di tumbuk memakai lesung dan alu kayu hingga menghasilkan bubuk.
Perpaduan tersebut menciptakan karakter kopi yang berbeda. Aroma kopi berpadu dengan nuansa gurih dari beras sangrai sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi penikmatnya.
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang banyak menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian. Campuran beras di percaya dapat memberikan rasa kenyang sekaligus tambahan tenaga sebelum menjalani aktivitas sehari-hari.
Kehidupan Sehari-hari Warga Desa Sade
Pada siang hari, wisatawan dahulu lebih sering menjumpai perempuan di kawasan permukiman. Banyak pria bekerja sebagai petani maupun peternak. Namun, sebagian lainnya terlibat dalam kegiatan pariwisata sebagai pemandu atau pengrajin.
Salah satu produk kerajinan yang menarik perhatian ialah aksesori berbahan akar bahar. Para pengrajin mengolah material tersebut menjadi gelang, cincin, tasbih, hingga tongkat.
Beragam kerajinan tersebut turut menjadi sumber penghasilan masyarakat. Wisatawan dapat melihat produk yang di jajakan di sepanjang jalur kampung sekaligus membawanya pulang sebagai cendera mata.
Setelah menjelajahi permukiman, wisatawan biasanya dapat menuju bagian yang lebih tinggi. Medan berundak mengikuti kondisi tanah sehingga pengunjung perlu menggunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
Dari titik tersebut, deretan rumah tradisional terlihat menyatu dalam lanskap Desa Sade. Perjalanan kemudian berakhir di pintu keluar dengan tulisan “Matur Tampi Asih”, ungkapan dalam bahasa Sasak yang berarti terima kasih banyak.
Kebakaran Mengubah Wajah Desa Adat Sade
Kenangan mengenai keutuhan kampung tersebut berubah setelah kebakaran besar melanda pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api menghanguskan banyak bangunan yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sade.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat sebanyak 75 rumah adat dan 69 artshop terbakar. Kerugian akibat musibah tersebut di perkirakan mencapai Rp34 miliar.
Sementara itu, Kementerian Kebudayaan mencatat total 167 bangunan terdampak kebakaran. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian budaya tidak hanya berasal dari bangunan yang rusak.
Sejumlah benda pusaka, naskah kuno, kain tenun, dan perlengkapan ritual ikut musnah. Barang-barang tersebut mempunyai arti penting karena berkaitan dengan sejarah serta perjalanan kehidupan masyarakat setempat.
Kebakaran akhirnya mengubah kawasan yang sebelumnya di penuhi aktivitas warga dan kunjungan wisatawan menjadi puing. Bagi masyarakat Sade, kehilangan tersebut tentu jauh melampaui nilai materi karena rumah adat sekaligus menjadi ruang untuk mempertahankan tradisi.
Merawat Ingatan tentang Warisan Budaya Sade
Desa Sade telah menjadi ruang hidup masyarakat Sasak selama sekitar enam abad. Dalam rentang waktu tersebut, berbagai tradisi, pengetahuan lokal, arsitektur, kerajinan, dan kebiasaan masyarakat terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, kebakaran yang melanda kampung tersebut bukan sekadar peristiwa yang merusak destinasi wisata. Musibah ini juga memberikan dampak besar terhadap salah satu ruang pelestarian budaya Sasak di Lombok.
Bagi orang yang pernah berkunjung sebelum musibah, kenangan tentang atap-atap ilalang, suara Gendang Beleq, pertunjukan Peresean, aktivitas perempuan menenun, hingga aroma kopi bercampur beras kini memiliki arti berbeda.
Namun, pengalaman wisatawan tentu tidak sebanding dengan kehilangan yang harus di hadapi masyarakat setempat. Warga kehilangan tempat tinggal sekaligus sebagian benda dan ruang budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Di tengah kondisi tersebut, dokumentasi dan ingatan mengenai Desa Adat Sade sebelum kebakaran menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga cerita tentang kampung tersebut. Kenangan itu sekaligus mengingatkan bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang dapat di kunjungi, melainkan juga bagian dari identitas masyarakat yang perlu di jaga keberlangsungannya.