Stella Rissa – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membuka ruang eksplorasi baru bagi pelaku industri kreatif. Teknologi tersebut tidak hanya di manfaatkan untuk menghasilkan visual, tetapi juga dapat membantu kreator menerjemahkan ide menjadi berbagai bentuk karya. Peluang inilah yang kini di eksplorasi oleh desainer Stella Rissa.
Stella di kenal sebagai sosok di balik label STELLARISSA. Selama ini, rumah mode tersebut banyak mengerjakan busana, termasuk koleksi bridal yang membutuhkan ketelitian tinggi. Dalam proses produksinya, keterampilan tangan masih memegang peranan besar. Bahkan, menurut Stella, pengerjaan koleksi bridal di fashion house miliknya hampir 90 persen mengandalkan proses manual.
Namun, perkembangan teknologi mendorong Stella untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Melalui Gemini AI, ia mulai mempelajari kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan dalam proses kreatif. Menariknya, eksperimen tersebut tidak langsung ia gunakan untuk merancang pakaian.
Hal itu di sampaikan Stella dalam Press Briefing “Mind, Thread, Vision With Gemini, In Craft” yang di gelar di Jakarta pada Kamis (3/9/2026).
Kreativitas Stella Rissa Meluas di Luar Desain Busana
Bagi Stella, profesinya sebagai desainer tidak membuat kreativitas harus berhenti pada pembuatan pakaian. Sebaliknya, ide kreatif dapat berkembang melalui beragam medium dan menghasilkan karya dalam bentuk yang berbeda.
Pemanfaatan Gemini AI kemudian menjadi kesempatan baginya untuk keluar dari rutinitas desain busana. Alih-alih meminta teknologi tersebut menghasilkan rancangan pakaian baru, Stella memilih menggunakannya untuk mengeksplorasi proyek kreatif lain.
Pendekatan tersebut sekaligus menghadirkan pengalaman baru bagi tim kreatif di studionya. Stella mengajak anggota tim untuk mempelajari teknologi AI bersama-sama. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi penting bagi pekerja kreatif karena perubahan akan terus berlangsung.
Ia menilai sikap terbuka terhadap teknologi dapat membantu kreator menemukan peluang yang sebelumnya belum terpikirkan. Sebaliknya, menutup diri dari perkembangan baru berpotensi membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pekerjaannya.
Gemini AI Membawa Kembali Karakter Starlet
Eksperimen Stella dengan kecerdasan buatan kemudian membawanya kembali kepada proyek lama bernama Starlet. Karakter tersebut sebenarnya bukan gagasan baru karena sudah di kembangkan bersama timnya ketika pandemi Covid-19 berlangsung.
Sekitar 2021, aktivitas studio mengalami perubahan seiring situasi pandemi. Selain membuat pakaian yang lebih nyaman seperti kaus, Stella dan tim memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi ide lain. Dari periode itulah muncul karakter Starlet yang awalnya divisualisasikan melalui teknik cat air.
Nama Starlet membawa gambaran tentang sosok perempuan yang bercahaya. Akan tetapi, pengembangannya tidak berlangsung terus-menerus. Setelah aktivitas kembali meningkat seusai pandemi, Stella dan tim memiliki berbagai kesibukan sehingga proyek karakter tersebut sempat berhenti.
Kesempatan baru muncul ketika Stella terlibat dalam kolaborasi bersama Google yang berkaitan dengan eksplorasi antara fashion dan AI. Momentum itu membuatnya kembali melihat potensi Starlet dan mempertimbangkan kemungkinan pengembangan karakter tersebut melalui teknologi.

Karakter Stelar and friends dalam Press Briefing ?Mind, Thread, Vision With Gemini, In Craft? di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Starlet Dikembangkan dalam Berbagai Versi
Dengan bantuan AI, Stella mulai membayangkan Starlet sebagai karakter yang dapat hadir dalam banyak variasi. Perubahan tidak hanya menyangkut gaya rambut dan pakaian, tetapi juga usia karakter. Meski demikian, identitasnya tetap di pertahankan dalam format kartun.
Eksperimen ini kemudian di hubungkan dengan karya fashion yang telah dibuat Stella. Salah satu gagasannya ialah menampilkan Starlet dengan berbagai busana STELLARISSA yang sebelumnya pernah muncul di runway.
Dengan pendekatan tersebut, koleksi fashion yang sebelumnya di peragakan oleh manusia dapat memperoleh bentuk representasi lain melalui karakter digital. Stella sekaligus dapat mengeksplorasi bagaimana identitas sebuah rancangan di terjemahkan ketika di kenakan oleh karakter ilustrasi.
Pengembangan Starlet bahkan tidak berhenti pada satu karakter. Stella juga membayangkan hadirnya karakter perempuan lain dalam konsep “Starlet and friends”. Proyek tersebut berpotensi berkembang dari sekadar karya visual menuju medium komunikasi yang lebih luas.
Salah satu arah pengembangannya adalah siniar atau podcast. Stella ingin membawa pesan pemberdayaan perempuan yang selama ini juga menjadi bagian dari nilai labelnya.
Karakter berbentuk kartun di anggap dapat menjadi perantara untuk menyampaikan berbagai suara dan pandangan tanpa mengharuskan sosok di baliknya tampil secara langsung. Format visual yang lebih ringan juga di nilai dapat membantu membawakan pembicaraan serius dengan pendekatan yang lebih mudah di terima.
AI Tetap Memerlukan Arahan dan Kreativitas Manusia
Pengalaman menggunakan kecerdasan buatan turut memberikan pembelajaran baru bagi Stella dan timnya. Salah satu kemampuan yang perlu mereka kuasai adalah menyusun prompt atau instruksi secara terperinci.
Menurut Stella, proses tersebut tidak sesederhana memberikan satu perintah kemudian menerima hasil akhir. Tim kreatif perlu memikirkan berbagai unsur secara spesifik agar teknologi mampu menerjemahkan gagasan sesuai tujuan.
Detail yang perlu di perhatikan dapat mencakup latar, karakter, topik percakapan, karakteristik suara, warna kulit, hingga berbagai elemen visual lainnya. Karena itu, kemampuan manusia dalam merumuskan ide tetap menjadi bagian penting dari proses penggunaan AI.
Bagi Stella, teknologi bukan pengganti kreativitas manusia. AI justru dapat berfungsi sebagai perangkat tambahan untuk memperluas kemungkinan dalam mewujudkan sebuah gagasan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat menghadirkan medium baru bagi industri kreatif. Kreator tetap menjadi pihak yang menentukan arah, konsep, dan tujuan sebuah karya, sedangkan AI membantu membuka lebih banyak pilihan untuk menerjemahkan imajinasi.
Melalui eksperimen Starlet, Stella Rissa memperlihatkan bagaimana teknologi dapat bertemu dengan fashion tanpa harus selalu menghasilkan desain pakaian baru. Dari karakter yang sebelumnya di buat dengan cat air pada masa pandemi, Starlet kini memperoleh kesempatan berkembang melalui medium digital sekaligus membawa pesan yang lebih luas mengenai perempuan, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi.