SematBerita24.com – Prosesi pelebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda berlangsung melalui upacara Bumi Suda atau kremasi di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Kamis (30/7/2026). Pelaksanaan upacara tersebut menjadi bentuk penghormatan keluarga terhadap wasiat yang telah di sampaikan almarhum semasa hidup. Seluruh rangkaian prosesi tetap mengikuti ketentuan agama Hindu sehingga nilai-nilai kesakralannya tetap terjaga.

Pelaksanaan pelebon ini menarik perhatian masyarakat karena menjadi momen bersejarah bagi Krematorium Tyaga Margananda. Sejak mulai beroperasi pada September 2025, fasilitas tersebut untuk pertama kalinya dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan pelebon seorang sulinggih. Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan krematorium mulai di terima sebagai salah satu alternatif dalam pelaksanaan upacara yadnya tanpa mengurangi makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

Rangkaian Upacara Di Mulai Sejak Beberapa Hari Sebelumnya

Prosesi pelebon tidak berlangsung hanya dalam satu hari. Sebaliknya, rangkaian upacara telah di mulai sejak 26 Juli 2026 di Griya Widya Giri Kusuma yang berada di Sidembunut, Desa Cempaga, Kabupaten Bangli. Berbagai tahapan sakral di laksanakan secara berurutan sebagai bagian dari tata cara keagamaan yang berlaku.

Beberapa prosesi penting yang di jalankan meliputi matur piuning, nancep taring, nunas tirta Tri Kahyangan, hingga mesucian agung. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam prosesi pelebon seorang sulinggih. Dengan demikian, pelaksanaan upacara tetap berjalan sesuai ajaran agama dan tradisi Hindu yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Puncak rangkaian upacara berlangsung ketika jenazah almarhum di berangkatkan dari Bangli menuju Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda di Karangasem. Setelah tiba di lokasi, prosesi di lanjutkan dengan pelaksanaan upacara Bumi Suda sebagai bagian akhir dari penghormatan kepada almarhum.

Pelebon Pertama Sulinggih di Krematorium Tyaga Margananda

Pengelola Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, I Wayan Pasek Yasa, mengungkapkan rasa syukur atas kepercayaan yang di berikan kepada pihaknya. Menurutnya, pelaksanaan pelebon tersebut menjadi pencapaian penting bagi krematorium yang usianya belum genap satu tahun.

Ia menjelaskan bahwa pihak pengelola baru menerima informasi mengenai rencana pelebon tersebut beberapa hari sebelum pelaksanaan. Meski demikian, seluruh persiapan dilakukan secara maksimal agar seluruh prosesi dapat berlangsung dengan baik dan sesuai ketentuan agama.

Kepercayaan yang di berikan keluarga almarhum di nilai menjadi bukti bahwa masyarakat mulai melihat krematorium sebagai fasilitas yang mampu mendukung pelaksanaan upacara yadnya secara layak. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan adanya perkembangan dalam cara masyarakat memanfaatkan sarana keagamaan yang tersedia tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Minat Masyarakat Terhadap Krematorium Terus Bertambah

Menurut Pasek Yasa, kehadiran krematorium semakin mendapat respons positif dari masyarakat. Warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Karangasem mulai memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai pilihan dalam melaksanakan upacara pelebon maupun kremasi.

Ia menegaskan bahwa penggunaan krematorium tidak mengurangi unsur sakral dalam pelaksanaan yadnya. Seluruh perlengkapan upacara atau banten tetap di persiapkan secara lengkap sebagaimana pelaksanaan ngaben pada umumnya.

Dengan demikian, proses kremasi tetap mengikuti tata cara keagamaan yang berlaku. Perbedaan hanya terletak pada penggunaan fasilitas krematorium sebagai tempat pelaksanaan pembakaran jenazah, sementara seluruh unsur ritual tetap di jalankan sesuai ketentuan agama Hindu.

Prosesi pelebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda melalui upacara kremasi Bumi Suda di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda Karangasem Bali.

Pelebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Karangasem, Kamis (30/7/2026).

Kremasi Merupakan Amanat Langsung Almarhum

Sementara itu, Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda atau Nabe Napak menjelaskan bahwa keputusan melaksanakan kremasi bukan muncul secara mendadak. Keinginan tersebut telah di sampaikan langsung oleh Ida Pandita Mpu Acharya Nanda ketika masih hidup.

Meskipun keluarga sebenarnya telah mempersiapkan tegal suci atau lokasi khusus untuk pelebon sulinggih, mereka tetap memilih menjalankan pesan terakhir almarhum. Keputusan itu di ambil sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat yang telah di tinggalkan.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh tahapan upacara tetap mengikuti tata agama Hindu. Prosesi mulai dari Purwasaya hingga penyekahan tetap di laksanakan secara utuh sehingga tidak ada bagian ritual yang di hilangkan meskipun pembakaran jenazah dilakukan di krematorium.

Menurutnya, keberadaan krematorium seharusnya di pandang sebagai alternatif yang memberikan kemudahan bagi umat Hindu dalam melaksanakan yadnya. Kehadiran fasilitas tersebut bukan untuk mengubah adat maupun tradisi, melainkan menawarkan pilihan yang lebih praktis dan efisien tanpa mengurangi kesucian upacara keagamaan.

Keluarga Menjalankan Pesan Terakhir dengan Penuh Hormat

Putra almarhum, I Komang Pujawan, menyampaikan bahwa seluruh keluarga berkomitmen menjalankan pesan terakhir sang ayah. Bagi keluarga, pelaksanaan kremasi merupakan bentuk penghormatan terhadap keinginan almarhum semasa hidup.

Selain melaksanakan wasiat tersebut, keluarga juga mempertimbangkan kondisi desa yang saat itu sedang melaksanakan rangkaian upacara adat. Oleh karena itu, penggunaan krematorium menjadi solusi yang di nilai tepat tanpa mengurangi makna spiritual dari pelaksanaan yadnya.

Keluarga memastikan seluruh prosesi tetap berjalan sesuai ajaran agama. Dengan demikian, tujuan utama pelebon sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum tetap dapat terlaksana secara khidmat.

Sosok Pendidik yang Mengabdikan Diri untuk Pendidikan dan Keagamaan

Semasa hidupnya, Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi di bidang pendidikan. Sebelum menjadi sulinggih, beliau mengabdikan diri sebagai kepala sekolah dan juga dosen di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa.

Pengabdiannya di dunia pendidikan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebelum akhirnya memilih menempuh jalan spiritual sebagai sulinggih. Oleh karena itu, prosesi pelebon yang di laksanakan melalui kremasi tidak hanya menjadi penghormatan terakhir atas jasa-jasanya, tetapi juga menjadi wujud nyata pelaksanaan amanat yang telah beliau sampaikan semasa hidup.

Pelaksanaan upacara Bumi Suda di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan fasilitas keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi. Selama seluruh tata cara agama tetap di jalankan secara lengkap, nilai kesakralan pelebon tetap terjaga. Prosesi ini pun menjadi contoh bahwa penghormatan terhadap wasiat almarhum dapat di wujudkan tanpa mengesampingkan ajaran agama maupun adat yang telah di wariskan secara turun-temurun.