Tradisi Menuba Di Sungai Arut – kembali menarik perhatian ribuan warga yang berkumpul di kawasan Pangkut, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Jumat (18/9/2026). Kegiatan adat masyarakat Dayak tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk mencari ikan bersama, tetapi juga membawa harapan agar musim kemarau segera berakhir.
Sejak pagi, masyarakat mulai mendatangi sejumlah lokasi di sepanjang Sungai Arut. Anak-anak hingga orang dewasa ikut meramaikan kegiatan tersebut. Sebagian warga membawa perlengkapan yang mereka perlukan untuk mengambil ikan dari sungai.
Kegiatan itu berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Warga turun langsung ke aliran sungai dan mencari ikan secara beramai-ramai setelah proses menuba berlangsung. Tradisi yang masyarakat pertahankan secara turun-temurun tersebut akhirnya membuat kawasan sungai terlihat jauh lebih ramai di bandingkan hari biasa.
Proses Menuba Menggunakan Bahan dari Tanaman
Menuba merupakan salah satu tradisi masyarakat setempat dalam menangkap ikan dengan memanfaatkan tanaman tuba. Sebelum kegiatan mencari ikan di mulai, warga mengolah bagian akar tanaman tersebut.
Masyarakat terlebih dahulu menumbuk akar tuba hingga halus. Selanjutnya, mereka melarutkan bahan tersebut ke dalam air dan mengalirkannya ke bagian sungai yang menjadi lokasi kegiatan. Proses ini membuat ikan lebih mudah di temukan dan di tangkap oleh masyarakat.
Meski menangkap ikan menjadi bagian yang paling terlihat, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas bagi warga. Tradisi menuba sekaligus menjadi sarana untuk mempertahankan kebiasaan leluhur yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Keterlibatan banyak kelompok usia juga membantu masyarakat mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya. Dengan mengikuti kegiatan secara langsung, generasi muda dapat melihat dan memahami salah satu kebiasaan adat yang masih bertahan di lingkungan mereka.
Warga dari Daerah Lain Ikut Berdatangan
Besarnya antusiasme masyarakat membuat kawasan sepanjang Sungai Arut di penuhi peserta. Camat Arut Utara, Sapiudin, menyebut warga yang hadir bukan hanya berasal dari Pangkut maupun wilayah Kecamatan Arut Utara.
Menurut Sapiudin, masyarakat dari daerah lain juga ikut datang untuk menyaksikan dan mengikuti tradisi tersebut. Beberapa peserta berasal dari kabupaten yang berdekatan dengan Kotawaringin Barat, termasuk Lamandau dan Seruyan.
Kehadiran masyarakat dari berbagai wilayah membuat kegiatan menuba semakin semarak. Selain mencari ikan, mereka dapat bertemu dan berinteraksi dalam satu kegiatan adat.
Momentum tersebut sekaligus memperkuat semangat gotong royong. Masyarakat bersama-sama mengikuti rangkaian kegiatan dan menikmati suasana di sepanjang sungai. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan tradisi tersebut.
Bagi masyarakat setempat, mempertahankan menuba berarti ikut menjaga peninggalan budaya para pendahulu. Oleh karena itu, keterlibatan warga secara langsung terus menjadi bagian penting setiap kali tradisi tersebut berlangsung.

Foto: Warga Pangkut Kotawaringin Barat menggelar ritual memanggil hujan dengan menggelar tradisi menuba adat di Sungai Arut, Jumat (18/9/2026).
Menuba Diiringi Harapan Turunnya Hujan
Pelaksanaan tradisi tahun ini juga membawa harapan tersendiri karena berlangsung ketika wilayah tersebut menghadapi kemarau panjang. Kondisi kering membuat masyarakat semakin menantikan datangnya hujan.
Musim kemarau tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi tanah. Ketersediaan sumber air juga menjadi perhatian masyarakat. Selain itu, lahan yang semakin kering dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Karena itu, masyarakat menyertakan doa dalam pelaksanaan tradisi menuba. Mereka berharap hujan segera mengguyur Kotawaringin Barat sehingga kondisi lingkungan kembali membaik.
Turunnya hujan diharapkan dapat membantu menjaga sumber air sekaligus membasahi kawasan yang mengalami kekeringan. Kondisi tersebut juga penting untuk membantu mengurangi ancaman karhutla selama musim kemarau.
Di tengah kesibukan menangkap ikan, harapan terhadap perubahan cuaca tetap menjadi bagian penting dari kegiatan masyarakat.
Tradisi Adat yang Memperkuat Kebersamaan
Tradisi menuba di Sungai Arut menunjukkan hubungan erat antara budaya, kehidupan masyarakat, dan kondisi alam. Ribuan orang dapat berkumpul dalam satu kegiatan sekaligus mempertahankan tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Menuba pun bukan hanya tentang hasil ikan yang dibawa pulang. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat, memperkuat gotong royong, sekaligus memperkenalkan nilai adat kepada generasi yang lebih muda.
Pada pelaksanaan kali ini, maknanya terasa semakin kuat karena masyarakat sedang menghadapi kemarau panjang. Warga menyimpan harapan agar hujan segera datang, sumber air tetap terjaga, dan risiko kebakaran hutan serta lahan dapat berkurang.
Keramaian di Sungai Arut akhirnya menggambarkan lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan. Melalui tradisi tersebut, masyarakat menjaga budaya leluhur sambil mempererat kebersamaan dan menyampaikan harapan agar kondisi alam kembali bersahabat.