SematBerita24.com – Konflik berkepanjangan di Jalur Gaza kembali menyisakan kisah pilu yang menggambarkan besarnya dampak perang terhadap kehidupan masyarakat sipil. Setelah menunggu hampir tiga tahun, keluarga Abu Shreia akhirnya dapat memakamkan puluhan kerabat mereka yang menjadi korban serangan udara yang menghancurkan kawasan Sabra, Kota Gaza, pada November 2023.
Momen tersebut menjadi peristiwa yang penuh emosi bagi para anggota keluarga yang masih hidup. Bagi mereka, prosesi pemakaman bukan sekadar mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi pengingat atas kehilangan besar yang belum pernah benar-benar pulih.
Penantian Panjang Sebelum Pemakaman
Lara Abu Shreia, perempuan berusia 39 tahun, mengaku tidak mampu memejamkan mata pada malam sebelum prosesi pemakaman di laksanakan. Setiap kali mencoba beristirahat, kenangan mengenai wajah ibu, saudara, dan keponakan yang telah meninggal terus menghantui pikirannya.
Untuk mengurangi rasa rindu, Lara membuka kembali foto-foto lama yang tersimpan di telepon genggamnya. Gambar-gambar tersebut menjadi satu-satunya pengingat akan kebersamaan bersama keluarga yang kini telah tiada.
Pada Selasa, ribuan warga memadati kawasan Sabra untuk mengikuti pemakaman massal terhadap 112 anggota keluarga Abu Shreia dan al-Hassaina. Jenazah mereka baru berhasil di temukan setelah tim evakuasi melakukan pencarian panjang di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara bertahun-tahun sebelumnya.
Saat kantong-kantong jenazah berwarna putih mulai berdatangan ke lokasi pemakaman, Lara tidak mampu menahan tangis. Ia mengaku merasakan kesedihan yang sama seperti ketika pertama kali mengetahui keluarganya menjadi korban serangan.
Serangan yang Mengubah Kehidupan Satu Keluarga
Peristiwa tragis itu bermula pada 22 November 2023 ketika sebuah serangan udara menghantam kompleks tempat tinggal keluarga Abu Shreia di kawasan Sabra.
Dalam insiden tersebut, Lara kehilangan 14 anggota keluarga terdekat. Korban meliputi ibunya, delapan saudara kandung, serta sejumlah keponakan yang selama ini tinggal bersama di lingkungan yang sama.
Saat serangan terjadi, Lara bersama suami dan lima anaknya sedang berada di wilayah selatan Gaza setelah mengungsi demi mencari tempat yang di anggap lebih aman. Sementara itu, sebagian besar anggota keluarganya memilih tetap bertahan di rumah.
Selama berada di pengungsian, Lara terus di liputi rasa cemas. Ia sempat berkomunikasi secara singkat dengan salah satu saudara perempuannya, meski jaringan telekomunikasi saat itu sangat terbatas akibat situasi konflik.
Tidak lama kemudian, ia melihat laporan mengenai serangan yang terjadi di kawasan Sabra. Berulang kali Lara mencoba menghubungi keluarganya, tetapi seluruh panggilan dan pesan yang di kirim tidak pernah mendapatkan balasan.
Beberapa waktu setelah itu, suaminya memperoleh informasi bahwa rumah keluarga mereka telah terkena serangan dan seluruh penghuni di duga tertimbun reruntuhan bangunan.
Harapan yang Berakhir di Tengah Puing-Puing
Kabar tersebut membuat Lara berusaha mencari siapa pun yang dapat mendatangi lokasi kejadian. Ia berharap masih ada anggota keluarganya yang berhasil selamat atau setidaknya dapat segera di evakuasi.
Pikiran mengenai kemungkinan keluarganya masih hidup tetapi terjebak di bawah reruntuhan terus menghantui dirinya selama berbulan-bulan.
Baru pada Januari 2025 Lara memiliki kesempatan kembali ke kawasan Sabra. Setibanya di lokasi, ia hanya menemukan hamparan puing bangunan yang menjadi saksi besarnya kehancuran akibat perang.
Tidak ada lagi rumah yang dahulu menjadi tempat berkumpul keluarga besarnya. Harapan untuk menemukan kerabat yang masih hidup pun perlahan menghilang ketika ia menyaksikan kondisi wilayah yang hampir rata dengan tanah.
Proses Evakuasi Berlangsung Sulit
Beberapa pekan sebelum pemakaman berlangsung, tim Pertahanan Sipil Palestina memulai operasi pencarian terhadap korban yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan.
Proses tersebut berlangsung cukup lama karena kondisi bangunan yang runtuh menyulitkan upaya evakuasi. Selain itu, keterbatasan alat berat juga memperlambat pencarian di berbagai titik.
Dari operasi tersebut, petugas berhasil menemukan 112 jenazah. Jumlah itu berasal dari total 153 orang yang sebelumnya di laporkan hilang akibat serangan.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyampaikan bahwa masih terdapat ribuan korban lain yang diyakini belum berhasil di evakuasi dari berbagai wilayah di Jalur Gaza.
Menurut perkiraannya, lebih dari 8.000 jenazah masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur selama konflik berlangsung.
Ia juga menjelaskan bahwa proses identifikasi korban menjadi tantangan tersendiri. Dalam sejumlah kasus, kondisi jenazah mengalami kerusakan berat sehingga membutuhkan proses identifikasi yang lebih rumit.
Duka yang Masih Membekas
Meskipun beberapa anggota keluarga menyarankan Lara agar tidak menyaksikan langsung proses evakuasi, ia tetap memutuskan datang ke lokasi.
Baginya, melihat sisa-sisa anggota keluarganya merupakan bagian dari penghormatan terakhir yang harus dilakukan.
Di sisi lain, kerabatnya, Ali Abu Shreia, juga merasakan kehilangan besar dalam tragedi tersebut. Ia kehilangan dua saudara laki-laki beserta istri dan anak-anak mereka.
Ali menggambarkan para korban sebagai warga sipil yang menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pedagang, pemilik usaha kecil, dan anggota masyarakat yang aktif.
Menurutnya, serangan tersebut menyebabkan tujuh keluarga hilang sepenuhnya dari catatan sipil karena seluruh anggotanya meninggal dunia.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan suasana yang penuh kesedihan. Ribuan pelayat mengiringi perjalanan jenazah menuju lokasi pemakaman, sementara sejumlah perempuan dari balkon rumah di sekitar lokasi menaburkan bunga dan mengucapkan salam perpisahan.
Bagi Lara, pemakaman tersebut memang menutup penantian panjang selama bertahun-tahun. Namun, kehilangan yang ia rasakan belum benar-benar hilang.
Ia mengaku masih menyimpan keinginan sederhana untuk memeluk anggota keluarganya untuk terakhir kali, meskipun yang tersisa hanyalah kantong jenazah yang berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan.
