SematBerita24.com – Tradisi Mangngaro di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menjadi salah satu warisan budaya masyarakat setempat yang masih di jaga hingga saat ini. Dalam pelaksanaannya, masyarakat memindahkan jenazah keluarga yang telah lama di semayamkan ke tempat pemakaman baru sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Sebanyak 48 jenazah di pindahkan dalam pelaksanaan Tradisi Mangngaro yang berlangsung di Desa Rippung, Kecamatan Messawa, pada Senin hingga Selasa, 3-4 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan keluarga besar keturunan leluhur yang berasal dari berbagai daerah.
Bagi masyarakat Mamasa, Mangngaro tidak hanya berkaitan dengan pemindahan jenazah. Tradisi ini memiliki nilai spiritual, budaya, serta sosial yang menggambarkan kuatnya hubungan masyarakat dengan leluhur dan keluarga besar.
Sebelum proses pemindahan jenazah dilakukan, masyarakat terlebih dahulu menggelar ibadah singkat yang di pimpin oleh seorang pendeta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penghormatan dan doa bersama sebelum jenazah di tempatkan di liang atau bangunan pemakaman baru.
Proses Pelaksanaan Mangngaro dari Pembuatan Liang hingga Pemindahan Jenazah
Pelaksanaan Mangngaro memiliki sejumlah tahapan yang dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga. Salah satu tokoh pemuda Desa Rippung, Viktor, menjelaskan bahwa rangkaian tradisi di awali dengan pembangunan tempat pemakaman baru yang di sebut liang oleh masyarakat setempat.
Setelah liang selesai di buat, keluarga kemudian melakukan proses penggalian jenazah yang sebelumnya berada di sejumlah lokasi berbeda. Jenazah tersebut selanjutnya di kumpulkan dan di pindahkan ke satu tempat baru agar keluarga lebih mudah memberikan penghormatan kepada para leluhur.
Dalam proses pemindahan, masyarakat tidak langsung mengganti seluruh pembungkus jenazah. Kain pembungkus lama tetap di pertahankan sebagai bagian dari penghormatan terhadap tradisi. Namun, kondisi pembungkus tersebut di perbaiki dan di lapisi kembali menggunakan kain baru agar terlihat lebih rapi.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mamasa tetap menjaga nilai penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Mereka tidak hanya memperhatikan kondisi fisik jenazah, tetapi juga mempertahankan simbol dan makna yang terkandung dalam tradisi leluhur.
Sebanyak 48 Jenazah Dipindahkan ke Liang Permanen
Dalam pelaksanaan Mangngaro kali ini, sebanyak 48 jenazah di pindahkan ke sebuah bangunan permanen berukuran sekitar 4,5 meter x 5 meter. Beberapa jenazah yang di pindahkan di ketahui telah di semayamkan selama puluhan tahun di lokasi sebelumnya.
Warga setempat, Osmond Ompori Allo, menjelaskan bahwa usia jenazah yang di pindahkan cukup beragam. Ada jenazah yang telah berada di tempat lama selama sekitar 60 tahun, sementara sebagian lainnya baru beberapa bulan di semayamkan.
Prosesi pemindahan dilakukan berdasarkan urutan keluarga yang telah di sepakati. Jenazah pasangan suami istri dari nenek Baru’ Buangan menjadi jenazah pertama yang di masukkan ke dalam liang baru. Setelah itu, keluarga memasukkan jenazah kerabat lainnya sesuai dengan susunan yang telah di tentukan.
Pelaksanaan tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya anak cucu serta kerabat besar keturunan nenek Baru’ Buangan. Mereka yang kini tinggal di berbagai wilayah sengaja datang ke Desa Rippung untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Mangngaro.

Foto: Tradisi Mangngaro di Mamasa, Sulawesi Barat.
Mangngaro Mempererat Hubungan Keluarga Antar Generasi
Selain memiliki nilai budaya dan keagamaan, Tradisi Mangngaro juga menjadi sarana memperkuat hubungan keluarga. Melalui kegiatan tersebut, anggota keluarga yang tersebar di berbagai daerah dapat kembali berkumpul dan menjaga hubungan kekerabatan.
Seluruh kebutuhan pelaksanaan tradisi, termasuk pembangunan liang baru, berasal dari kontribusi keluarga besar. Tidak ada jumlah biaya tertentu yang di wajibkan, melainkan setiap anggota keluarga memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.
Menurut masyarakat setempat, penyatuan jenazah dalam satu lokasi membuat keluarga lebih mudah melakukan penghormatan kepada leluhur. Selain itu, tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus pengingat bahwa hubungan keluarga tetap terjalin meskipun sebagian anggota keluarga telah meninggal dunia.
Mangngaro juga memiliki peran penting dalam mengenalkan nilai budaya kepada generasi muda. Anak cucu yang mengikuti prosesi tersebut dapat memahami sejarah keluarga serta mengenal kembali asal-usul leluhur mereka.
Nilai Budaya Mangngaro yang Terus Di Lestarikan
Bagi masyarakat Mamasa, Mangngaro bukan sekadar ritual pemindahan jenazah. Tradisi ini menjadi ruang untuk mengenang perjalanan hidup para leluhur sekaligus menjaga warisan budaya yang telah di wariskan secara turun-temurun.
Melalui Mangngaro, masyarakat mengajarkan bahwa keluarga tidak hanya terbentuk dari mereka yang masih hidup, tetapi juga mencakup orang-orang terdahulu yang telah memberikan nilai, ajaran, dan sejarah bagi generasi berikutnya.
Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Mamasa masih memiliki ikatan kuat dengan budaya leluhur. Di tengah perubahan zaman, Mangngaro tetap menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, serta upaya menjaga identitas budaya masyarakat setempat.