Perubahan Iklim Akibat Aktivitas Manusia – dinilai ikut memperbesar ketidakstabilan kawasan pegunungan tinggi Himalaya sebelum runtuhnya gletser yang memicu banjir besar di perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026. Meski bukan penyebab tunggal, peningkatan suhu global di duga memperburuk sejumlah kondisi alam yang sebelumnya sudah rentan.
Temuan tersebut muncul dalam penelitian terbaru World Weather Attribution (WWA). Para peneliti menganalisis berbagai faktor yang berpotensi berkontribusi terhadap bencana, termasuk kenaikan temperatur, penyusutan gletser, pencairan permafrost, kondisi lereng, hingga dampak aktivitas tektonik di Himalaya.
Ahli klimatologi dari Imperial College London sekaligus salah satu penulis studi, Dr. Friederike Otto, menjelaskan bahwa pengaruh manusia terhadap iklim telah membantu menciptakan kondisi yang mendukung terjadinya bencana tersebut. Namun, penelitian itu tidak menempatkan perubahan iklim sebagai satu-satunya pemicu.
Suhu Meningkat dan Gletser Terus Menipis
Penelitian WWA menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan terdampak selama Juli dan Agustus 2026 sekitar 1,5 derajat Celsius lebih tinggi akibat pengaruh aktivitas manusia terhadap sistem iklim.
Pada saat yang sama, massa es di wilayah tersebut terus berkurang. Gletser di perkirakan mengalami penipisan sekitar setengah meter setiap tahun. Perubahan ini dapat memengaruhi kestabilan kawasan pegunungan, terutama pada lereng yang sebelumnya telah memiliki retakan atau struktur batuan yang rapuh.
Selain penyusutan gletser, pencairan permafrost juga mendapat perhatian. Lapisan tanah yang sebelumnya membeku dapat kehilangan kemampuannya dalam membantu mempertahankan kestabilan material batuan ketika temperatur terus meningkat.
Karena itu, laporan tersebut menggambarkan perubahan iklim sebagai salah satu unsur yang dapat mengganggu kestabilan wilayah dengan kondisi geologi rentan.
Faktor cuaca pada periode sebelumnya juga turut di perhitungkan. Salju dalam jumlah besar yang turun pada Oktober dan November 2025 menghasilkan tambahan air lelehan ketika temperatur meningkat pada tahun berikutnya.
Para peneliti menduga berbagai kondisi tersebut saling berinteraksi sehingga memperbesar dampak ketika keruntuhan akhirnya terjadi.
Runtuhan Gletser Memicu Banjir Besar
Bencana bermula dari runtuhnya bagian lereng gletser di sekitar Langtang Lirung, salah satu kawasan pegunungan di sisi Nepal Himalaya.
Massa es dalam jumlah sangat besar meluncur menuju lembah dan menghantam bagian bawah kawasan tersebut. Kekuatan benturan bahkan menghasilkan sinyal seismik yang menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyerupai gempa berkekuatan magnitudo 5,2.
Setelah keruntuhan terjadi, material es, batuan, air, dan tanah bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Banjir serta longsoran kemudian melanda sejumlah permukiman di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan luas pada rumah penduduk serta berbagai fasilitas penting, termasuk infrastruktur energi.
Berdasarkan data yang dirilis pada Rabu (16/9/2026), otoritas Nepal memperbarui jumlah orang yang masih hilang. Angka yang sebelumnya tercatat sebanyak 5.179 orang meningkat menjadi 6.150 orang. Sementara itu, jumlah korban meninggal di laporkan masih berada di kisaran 1.400 jiwa.

Foto yang diabadikan menggunakan drone pada 27 Agustus 2026 ini menunjukkan pemandangan Nuwakot di Nepal yang diterjang banjir bandang dahsyat.
Gempa 2015 Diduga Ikut Melemahkan Lereng
Selain faktor iklim, para ilmuwan turut mempelajari pengaruh gempa besar yang mengguncang Nepal pada 2015. Gempa berkekuatan magnitudo 7,8 tersebut sebelumnya memicu banyak longsoran batuan dan es di kawasan Himalaya.
Guncangan itu diduga meninggalkan dampak jangka panjang terhadap struktur batuan di sekitar lokasi keruntuhan. Meski demikian, para peneliti belum dapat menentukan seberapa besar kontribusi gempa tersebut terhadap peristiwa pada Agustus 2026.
Pakar hidrologi pegunungan dari Universitas Utrecht, Dr. Walter Immerzeel, menilai lokasi bencana memang memiliki karakter geologi yang rentan. Dampak gempa 2015 kemungkinan telah memperlemah lereng, sementara penyusutan gletser dan pencairan permafrost menambah tekanan terhadap kestabilannya.
Kondisi Himalaya yang aktif secara tektonik turut menjadi faktor penting.
Profesor ilmu bumi Universitas Oxford, Dr. Mike Searle, sebelumnya menjelaskan bahwa kawasan Langtang Lirung terus mengalami proses pengangkatan akibat aktivitas tektonik. Proses tersebut dapat membuat medan gletser semakin curam sehingga sebagian massa es berpotensi runtuh.
Namun, keruntuhan es dalam skala sangat besar dan berlangsung dalam satu peristiwa tetap tergolong tidak biasa.
Perubahan Iklim dan Ancaman di Pegunungan Tinggi
Menghubungkan satu bencana secara langsung dengan perubahan iklim tetap membutuhkan kehati-hatian. Pakar gletser dari Universitas Dundee, Dr. Simon Cook, menekankan bahwa hubungan sebab-akibat pada satu kejadian tertentu sulit di tentukan secara sederhana.
Meski begitu, peningkatan temperatur dalam jangka panjang dapat mengubah kestabilan lingkungan pegunungan tinggi. Penyusutan es dan pencairan permafrost berpotensi membuat lereng semakin mudah mengalami perubahan.
Bencana Nepal-Tibet akhirnya kembali menyoroti kerentanan negara-negara Himalaya terhadap dampak pemanasan global.
Pemerintah Nepal pun mendorong masyarakat internasional meningkatkan upaya menghadapi perubahan iklim. Nepal menilai kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca global relatif kecil, sementara negara tersebut menghadapi ancaman besar dari perubahan lingkungan di kawasan pegunungan.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah di jadwalkan menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada pekan berikutnya. Dalam kunjungan luar negeri pertamanya tersebut, ia berencana membawa persoalan bencana Nepal-Tibet sekaligus membahas isu keadilan iklim di tingkat internasional.